Rajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam  untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab.

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan: (lagi…)

Beberapa hari ini, Blog MWCNU Karangmoncol kebanjiran komentar dari –sepertinya– Salafi Wahabi. Biasa…”tradisi” mereka adalah membid’ahkan amaliyah Nahdliyah. Padahal Nabi Saw “tidak memberi contoh” membid’ahkan amaliyah orang lain, yang jelas ada dasarnya. Persoalannya adalah karena mereka (Salafi Wahabi) tidak menerima dasar yang kita (Nahdliyah) pakai.

Blog MWCNU tidak keberatan menampung berbagai komentar. Tapi perlu kami sampaikan di sini, bahwa misi blog ini adalah untuk kalangan NU. Anda yang berpaham lain (Salafi Wahabi dll) silahkan membuat blog sendiri tanpa harus “merecoki” blog kami. Mohon maaf komentar Anda (Salafi Wahabi) kami tahan di moderasi. Seingat saya, tidak ada artikel di blog ini yang menjelek-jelekkan golongan lain, termasuk Salafi Wahabi. Tapi kenapa ya…. Anda, Salafi Wahabi suka merecoki akun orang lain yang tidak sefaham.

Saran kami kepada Anda yang sudah memberikan komentar dengan sangat bernafsu (abu bakar, abdullah, ronald, nupemuda, dan saya yakin Anda masih satu orang merski dengan nama yang berbeda. Ketahuan lo….IP Adressnya sama), Anda juga harus berpikir seimbang. Jangan hanya membaca buku-buku dari Salafi Wahabi. Banyak buku-buku dari NU yang sudah terbit. Cobalah Anda membaca. Kalau Anda membaca bukunya Mahrus Ali Mantan Kyai NU, Anda juga harus membaca bantahannya. Membaca tidak dengan emosi, tapi dengan kelapangan hati.

Adalah salah besar, ketika kita sedang mencari kebenaran, lalu kita merasa paling benar. Boleh kita merasa paling benar, tapi tidak usah menyalahkan, membid’ahkan amaliyah orang lain. Sebab orang lain juga merasa benar. (lagi…)

Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah & merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan perkara ini banyak sekali, diantaranya.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْأ مَغْفُوْرًا لَكُمْ –أخرجه الطبراني

” Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir&tidak mengharap kecuali ridla Allah kecuali malaikat akan menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian.
(HR Ath-Thabrani)

Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum di antaranya adaah hadits qudsi berikut ini. Rasulullah SAW bersabda:
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّي عّبْدِي بِي وَأنَا مَعَهُ عِنْدَ ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرًا مِنْهُ –منقق عليه

“Allah Ta’ala berfirman: Aku kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadapku, dan aku senantiasa menjaganya dan memberinya taufiq serta pertolongan kepadanya jika ia menyebut namaku. Jika ia menyebut namaku dengan lirih Aku akan memberinya pahala dan rahmat dengan sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebutku secara berjamaah atau dengan suara keras maka aku akan menyebutnya di kalangan malaikat yang mulia .

(HR Bukhari-Muslim)

Ada Upaya Penghapusan Sejarah Peran Wali

KUDUS, suaramerdeka.com – Pada 2002, ada satu buku yang cukup mengejutkan kalangan umat Islam di Jawa, khususnya di kalangan warga nahdliyyin. Buku itu berjudul Walisongo: Apakah Ada? karangan Syamsudduha.

Salah satu yang merasa gundah dengan buku tersebut adalah Agus Sunyoto, akademisi dari Universitas Brawijaya. Persoalan yang membuatnya gundah, karena di buku itu disebutkan, bahwa Walisongo itu tidak ada, melainkan cuma dongeng yang berkembang di masyarakat.

”Saya tunggu, kalau-kalau ada (buku) yang meng-counter, namun ternyata tidak ada,” ujar penulis buku Suluk Abdul Jalil mengawali permbicaraannya saat menjadi narasumber dalam diskusi tentang ‘Peran Walisongo dalam Penyebaran Islam di Tanah Jawa’ yang diselenggarakan Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA) di Graha Wisata, Colo, Jumat (9/3) malam. (lagi…)

Diambil dari: Status GP. Ansor Cabang Purbalingga
(Torik Jahidin,S.Pd.I)

I. Latar Belakang
Sejak awal kelahirannya, NU telah menyatakan diri sebagai organisasi sosial keagamaan yang memiliki visi untuk mengambil peran-peran strategis dalam rangka membela problem-problem sosial keumatan. NU adalah oganisasi yang menjadikan kepentingan agama, masyarakat dan bangsa sebagai titik perjuangannya, sehingga tidak salah apabila organisasi ini lebih membumi dibandingkan dengan organisasi sosial keagamaan yang lain. Pilihan yang didasari oleh sebuah kaidah almuhafadhatu ‘ala qodimishsolih wal ahdu bil jadidil ashlah yang mengandung makna bahwa NU tetap memelihara kultur lokal, tetapi tetap terbuka dengan tradisi baru yang bernilai lebih baik (ashlah)sebagai gerakan dakwah yang bisa beradaptasi dengan tradisi lokal. Dari gerakan yang mengadaptasi kultur lokal maka sebuah anekdot yang disampaikan oleh Dr(HC) KH. Hasyim Muzadi (Mantan Ketua Umum PBNU) dalam berbagai kesempatan . “Orang Madura kalau ditanya tentang agamanya, ia akan menjawab, agama saya adalah NU, syariatnya Islam, Panutannya kiai”.
Pertumbuhan Islam di Indonesia merupakan kasus sejarah keagamaan yang sangat menarik dicermati, baik dari segi historis, teologis maupun filsafat. Islam terbid berada jauh di bumi Arabia, ternyata bagaikan pohon, Islam tumbuh dan berkembang pesat di Indonesia dengan nuansa warna lokal yang kental. Jarak geografis ini juga diperkuat lagi oleh tembok bahasa sehingga wacara intelektual keislaman yang disajikan dalam bahasa Arab maupun bahasa Eropa hamper-hampir tidak tersentuh kecuali oleh kelompok kecil ulama dan intelektual. (lagi…)

Dalam praktek keagamaan, oleh kelompok puritan, adat disingkirkan. Adat dinilai sebagai tidak pantas berdampingan agama. Adat manusia, agama Tuhan. Adat relatif, agama mutlak. Adat lokal, agama universal, dan seterusnya.
Bagaimana orang Bugis menerima agama? Bagaimana mereka mempraktekkan adat. Dan bagaimana pula mereka menjalani keduanya?
Hamzah Sahal dari NU Online telah mewawancarai Prof. Dr. Nurhayati Rahman beberapa waktu lalu di kantornya, Universitas Hasanudin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Sampai hari ini, Nurhayati adalah orang Bugis yang konsisten menyelami budayanya sendiri dengan cara akademik. Dari menulis skripsi, tesis, hingga disertasi, aktivis Muslimat NU Sulawesi Selatan ini menulis tentang La Galigo.
Empat ratus tahun lalu Islam sudah mendarat di sulawesi selatan. Artinya Islam juga sudah lama bergumul dengan Sulawesi Selatan lengkap dengan seluk-beluk keyakinan, kebudayaannya. Apakah Anda bisa memberi ilustrasi bagaimana keduanya bergerak?
Di sini ada sebuah sejarah lisan yang sangat terkenal dan popular di kalangan masyarakat pedesaan. Ada dialog antara Nabi Muhammad dan Sawere Gading (tokoh utama dalam agama tradisonal orang Bugis yang terdapat dalam karya sastra La Galigo, red). Diceritakan Nabi Muhammad bertemu dengan Sawere Gading. Keduanya berdebat dan beradu kesaktian. (lagi…)

Warga NU pasti mengenal Syiiran Gus Dur. Mungkin bukan hanya karena kandungan syairnya yang sangat mendalam, namun karena dilantunkan dengan lagu yang merdu dan menyayat hati. Beberapa orang mengaku merinding mendengarnya. Dimulai dengan bacaan istighfar, lalu diikuti bacaan Shalawat, dan dilanjutkan dengan bait-bait syair dalam bahasa Jawa yang cukup bagus, dan ditutup dengan bacaan shalawat lagi, berikut ini:
Astaghfirullah rabbal baroya
Astaghfirullah minal khotoya
Robbi zidni ‘ilman nafi’a
Wawafiqni amalan sholiha

Yarasullah… Salamun alaik
Ya rafi’a syani wadaraji
Athfatayyaji ratal ‘alami
Ya uhailalju diwal karomi

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
Kelawan muji maring Pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro

Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo haqiqot manjing rasane

Al Qur’an qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh Kang Moho Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun ojo dursilo
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayo nglakoni sakabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate

Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese (lagi…)

Oleh: Abdurrahman Wahid

Beberapa hari setelah tertembaknya Dr. Azahari di Batu, Jawa Timur, Habib Rizieq menyatakan (dalam hal ini membenarkan ungkapan) bahwa pelaku terorisme di Indonesia itu akan masuk surga. Ia menyampaikan rasa simpati dan menilainya sebagai orang yang mati syahid. Pernyataan ini seolah memperkuat pendapat seorang teroris yang direkam dalam kepingan CD, mati dalam pemboman di Bali akan masuk surga. Ini tentu karena si teroris yakin akan hal itu. Dengan demikian jelas bahwa motif tindakannya dianggap melaksanakan ajaran agama Islam. Ungkapan ini sudah tentu dalam membenarkan dan menyetujui tindak kekerasan atas nama Islam. Benarkah demikian?

Pertama-tama, harus disadari bahwa tindak teroristik adalah akibat dari tidak efektifnya cara-cara lain untuk ‘menghadang’, apa yang dianggap sang teroris sebagai, hal yang melemahkan Islam. Bentuk tindakan itu dapat saja berbeda-beda namun intinya sama, yaitu anggapan bahwa tanpa kekerasan agama Islam akan ‘dikalahkan’ oleh hal-hal lain, termasuk modernisasi ‘model Barat’. Tak disadari para teroris, bahwa respon mereka bukan sesuatu yang murni dari agama Islam itu sendiri. Bukankah dalam tindakannya para teroris juga menggunakan penemuan-penemuan dari Barat? Ini terbukti dari berbagai alat yang digunakan, seperti perkakas komunikasi dan alat peledak. Bukankah ini menunjukkan hipokritas yang luar biasa dalam memandang kehidupan? (lagi…)

Oleh: KHR. Chamid Busthomi, Rois Syuriyah MWCNU Karangmoncol.

Puasa adalah ibadah sirri (rahasia). Orang yang mengetahui kita benar-benar berpuasa atau tidak hanya diri kita masing-masing. Banyak orang yang menampakkan dirinya seperti orang berpuasa, tapi di luar sana pergi ke warung untuk makan dan minum dengan lahapnya. Ini ajaib dan aneh. Mereka mengaku mengenal Alloh, tapi malah mengingkari dan menentangnya. Perbuatan yang demikian justru menandakan sebagai orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri, yang berarti juga dia telah menghancurkan dirinya sendiri.

Celakalah mereka yang menganggap remeh suatu pekerjaan yang sebenarnya sangat bermanfaat (yaitu puasa), tapi malah mengejar sesuatu yang ia inginkan. Celakanya lagi, karena mereka juga meyakini bahwa Romadlon adalah bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, tapi mereka malah melupakan apa yang mereka yakini itu.

Wahai kaum muslimin-muslimat, berdirilah dengan tegar dan waspada laksana Anda seorang penjaga. Usirlah mereka yang akan masuk jika kedatangannya justru akan mengotori dan membuat kerusakan ruangan Anda. Tinggalkanlah hasrat dan nafsu Anda yang tidak baik agar tercapai cinta Alloh yang Maha kasih dan sayang. Cinta Alloh akan mengantarkan Anda menggapai segala cita-cita. (lagi…)

This slideshow requires JavaScript.

PURBALINGGA (17 Mei 2011) PC Ansor NU Purbalingga menyelenggarakan Gema Dzikir dan Sholawat di Lapangan Kec. Karanganyar, Purbalingga. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Ansor NU yang ke-77.  Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Bupati Purbalingga H. M. Sukento Ridlo, MM.

Sekitar puluhan ribu lebih pengunjung memadati lapangan dan jalan. Semua berzikir dan bersholawat. Bersaut padu antara Habib Syech dengan pengunjung.  Semua merindukan Rasulullah. Semua ingin menjadi tamu Rasulullah saw, mendapatkan syafaat Rasulullah saw. Mereka adalah pecinta Rasulullah, pecinta auliya, ulama, kyai, habaib. Sungguh sebuah “kekuatan ruhani” yang sangat dahsyat. Bahkan ketika hujan deras mengguyur, mereka tidak bergeming dari barisannya.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, dalam tausiyahnya mengharapkan agar Ansor benar-benar menjadi “Ansorulloh”, penolong Allah, bukan ansor partai, bukan ansor dari orang-orang yang punya misi pribadi. Tapi sebagai Ansor yang siap mengawal perjuangan para ulama, kyai yang memperjuangkan aqidah ahlussunnah wal jamaah. Dengan demikian Ansor dan Banser juga harus tetap istiqomah menjalankan aqidah ahlussunnah wal jamaah.

Bahwa perjuangan Ansor dan NU umumnya juga tidak dapat dipisahkan dari perjuangan dan pergerakan bangsa Indonesia. Dalam catatan sejarah NU senantiasa setia mengawal NKRI dan ikut membangun pondasi bangsa.

Habib Syech sebagai salah satu Mustasyar di PWCNU Jateng, juga mengingatkan kepada seluruh warga nahdliyin agar tetap istiqomah menjalankan ibadah ala nahdliyin. Jangan terpengaruh oleh orang-orang yang suka membid’ah-bid’ahkan amalan nahdliyin. Tahlilan jalan terus, yasinan jangan berhenti, shalawatan jalan terus, makmurkan bumi Allah dengan zikir, istighosah, dll.

Jangan berdebat dengan orang yang bodoh. Orang yang suka membi’ahkan amalan NU itu orang yang tidak tahu/bodoh. Kalau kita orang NU yang sudah tahu kok malah mau ngeyel dengan orang yang bodoh, kita malah akan menjadi mbahing bodoh. Jadi kalau ada orang yang mengatakan tahlilan, yasinan, shalawatan dll bid’ah. Biarkan saja. Tidak perlu dilayani. Tidak perlu berdebat dengan orang yang tidak tahu. Kita doakan agar mereka suka tahlilan, suka yasinan, suka shalawatan.

Di akhir tausiyahnya, Habib menyampaikan cerita dialog Al Ghozali dengan murid-muridnya. Al Ghazali bertanya kepada muridnya, “Di zaman sekarang, apa yang orang anggap paling ringan?”. Mereka menjawab “yang ringan itu kapas, angin, debu…”. Lalu Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang paling ringan di akhir zaman ini adalah meninggalkan shalat. Banyak orang meninggalkan sholat. Al-Ghazali betanya lagi, “Apa yang orang anggap paling berat?”, Murid-murdnya menjawab, “yang berat itu besi, batu, gunung….” Lalu Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang berat di zaman sekarang adalah menjaga amanat.

Amanat itu banyak. Ada amanat jabatan, amanat keluarga, anak, istri, amanat harta. Orang tua akan dimintai pertanggungjawabannya bagaimana dia menjaga, mendidik anak-anaknya. Anak harus dididik agama dengan  benar. Kalau tidak mampu mendidik sendiri, titipkan di pondok-pondok pesantren.*****[ZKH]

Selamat HUT ke-77 kepada Ansor NU.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.