Beberapa hari ini, Blog MWCNU Karangmoncol kebanjiran komentar dari –sepertinya– Salafi Wahabi. Biasa…”tradisi” mereka adalah membid’ahkan amaliyah Nahdliyah. Padahal Nabi Saw “tidak memberi contoh” membid’ahkan amaliyah orang lain, yang jelas ada dasarnya. Persoalannya adalah karena mereka (Salafi Wahabi) tidak menerima dasar yang kita (Nahdliyah) pakai.

Blog MWCNU tidak keberatan menampung berbagai komentar. Tapi perlu kami sampaikan di sini, bahwa misi blog ini adalah untuk kalangan NU. Anda yang berpaham lain (Salafi Wahabi dll) silahkan membuat blog sendiri tanpa harus “merecoki” blog kami. Mohon maaf komentar Anda (Salafi Wahabi) kami tahan di moderasi. Seingat saya, tidak ada artikel di blog ini yang menjelek-jelekkan golongan lain, termasuk Salafi Wahabi. Tapi kenapa ya…. Anda, Salafi Wahabi suka merecoki akun orang lain yang tidak sefaham.

Saran kami kepada Anda yang sudah memberikan komentar dengan sangat bernafsu (abu bakar, abdullah, ronald, nupemuda, dan saya yakin Anda masih satu orang merski dengan nama yang berbeda. Ketahuan lo….IP Adressnya sama), Anda juga harus berpikir seimbang. Jangan hanya membaca buku-buku dari Salafi Wahabi. Banyak buku-buku dari NU yang sudah terbit. Cobalah Anda membaca. Kalau Anda membaca bukunya Mahrus Ali Mantan Kyai NU, Anda juga harus membaca bantahannya. Membaca tidak dengan emosi, tapi dengan kelapangan hati.

Adalah salah besar, ketika kita sedang mencari kebenaran, lalu kita merasa paling benar. Boleh kita merasa paling benar, tapi tidak usah menyalahkan, membid’ahkan amaliyah orang lain. Sebab orang lain juga merasa benar.

Kalau kita merasa paling benar, dan mengamalkan keyakinan kita masing-masing tanpa menyalahkan amaliyah orang lain, pasti akan ada kedamaian. Tapi kalau Anda merasa paling benar, paling berhak sorga, yang lain bid’ah, neraka dan halal darahnya. Ini yang berbahaya.

Selama ini orang-orang NU tidak ada yang membid’ahkan amaliyah orang-orang Salafi Wahabi. Meskipun ada juga yang bid’ah, tapi Anda beralasan itu “maslahah mursalah”. Apakah anda menyadari bahwa “maslahah mursalah” itu sendiri juga “bid’ah” ? Pada masa Nabi Saw, tidak ada yang namanya “masalah mursalah” to?

Percayalah bahwa amaliyah orang-orang NU punya dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i. Kami bershalawat, membaca tahlil, zikir berjamaah, istighotsah, dll, semua ada dalilnya. Persoalan Anda (Salafi Wahabi) tidak memakai dasar tersebut,  itu urusan Anda.

Sebagai sebuah organisasi (NU), kami juga berkewajiban menjaga keutuhan jamaah (warga NU) (hifdzul jamaah). Kami membina warga NU tidak dengan cara memusuhi kelompok lain. Cukuplah warga NU yang kami “uri-uri”. Cobalah Anda bertanya kepada  sesama Salafi Wahabi, apa pernah ada pengurus NU yang memaksa ngajak masuk NU, atau menjelek-jelekkan amaliyah Salafi Wahabi? Sebab kerukunan dengan sesama muslim dan ummat yang lain juga menjadi misi NU. Ada ukhuwwah basyariyah/insaniyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah nahdliyah.

Kalau Anda (Salafi Wahabi) mau berdakwah, silakan kepada orang-orang non-muslim. Tidak etis berdakwa dengan “memaksakan pendapat” kepada sesama muslim. Kepada non-muslim saja harus disampaikan dengan ucapan yang baik. Saya kira Anda tahu bagaimana cara Nabi Saw berdakwah.

Sekian dulu. besok-besok insya Alloh kami tambah lagi. [***]