Diambil dari: Status GP. Ansor Cabang Purbalingga
(Torik Jahidin,S.Pd.I)

I. Latar Belakang
Sejak awal kelahirannya, NU telah menyatakan diri sebagai organisasi sosial keagamaan yang memiliki visi untuk mengambil peran-peran strategis dalam rangka membela problem-problem sosial keumatan. NU adalah oganisasi yang menjadikan kepentingan agama, masyarakat dan bangsa sebagai titik perjuangannya, sehingga tidak salah apabila organisasi ini lebih membumi dibandingkan dengan organisasi sosial keagamaan yang lain. Pilihan yang didasari oleh sebuah kaidah almuhafadhatu ‘ala qodimishsolih wal ahdu bil jadidil ashlah yang mengandung makna bahwa NU tetap memelihara kultur lokal, tetapi tetap terbuka dengan tradisi baru yang bernilai lebih baik (ashlah)sebagai gerakan dakwah yang bisa beradaptasi dengan tradisi lokal. Dari gerakan yang mengadaptasi kultur lokal maka sebuah anekdot yang disampaikan oleh Dr(HC) KH. Hasyim Muzadi (Mantan Ketua Umum PBNU) dalam berbagai kesempatan . “Orang Madura kalau ditanya tentang agamanya, ia akan menjawab, agama saya adalah NU, syariatnya Islam, Panutannya kiai”.
Pertumbuhan Islam di Indonesia merupakan kasus sejarah keagamaan yang sangat menarik dicermati, baik dari segi historis, teologis maupun filsafat. Islam terbid berada jauh di bumi Arabia, ternyata bagaikan pohon, Islam tumbuh dan berkembang pesat di Indonesia dengan nuansa warna lokal yang kental. Jarak geografis ini juga diperkuat lagi oleh tembok bahasa sehingga wacara intelektual keislaman yang disajikan dalam bahasa Arab maupun bahasa Eropa hamper-hampir tidak tersentuh kecuali oleh kelompok kecil ulama dan intelektual.
Tulisan ini ingin memberikan gambaran tentang bagaimana peran Nahdlatul Ulama dalam membangun Peradaban di Indonesia walaupun sudah banyak penulis yang mengangkat masalah Nahdlatul Ulama karena memang Organisasi NU tidak akan pernah habis ditulis.

II. Islam Dan Indonesia
Memang banyak teori kapan dan dari mana Islam datang ke Indonesia, misalnya teori kurdi-nya Martin Van Bruinessen, teori India-nya Snouck Hourgronye, teori Arab-nya Naguib Al Atts dan juga dimunculkannya teori yang menyebutkan bahwa adanya peran siginifikan orang-orang Tionghoa dalam proses Islamisasi di Indonesia baik oleh Sumanto Al Qurtubi atau Prof. Mulyana. Baigi Snouck, pada Abad ke 13 M Islam masuk lewat Gujarat/india dengan dibuktikannya makam sultan pertama kerajaan Islam Samudra Pasai, Malik As Sholih yang berasal dari Gujarat. Berbeda dengan Naquib Al Attas yang mewakili sarjana-sarjana Muslim ang berpendapat bahwa Islam langsung masuk ke Nusantara melalui jalur pelayaran yang ramai dan bersifat international melalui selat Malaka yang menghubungkan dengan Dinasti Tang Cina (Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayah di Asia Barat pada abad ke 7 sampai 8 M. Bagi Martin Van Bruinessen, Islam datang dari Kurdi Persia sebelum menjadi Iran melalui jalur tasawuf dengan bukti adanya pembacaan kitab Maulid Al-Dziba’I karya ulama Persia Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad (1690-1764M) dalam pelaksanaan ritual keagamaan di Nusantara. Pendapat dari sarjana kontemporer, Taufik Abdullah misalnya mencoba mengkompromikan antara pendapat yang menyebutkan Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 7-8 M dengan yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 13 M. Menurut pendapat Taufik, Islam sudah dating sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke 7-8 M, tetapi baru di anut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Pada abad ke 13 M, barulah Islam masuk besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Akan tetapi yang terpenting penyebaran Islam di Indonesia (khususnya di Jawa) oleh para mubaligh Islam dengan menggunakan saluran dakwah, diantaranya perdagangan, perkawinan, pendidikan dan juga lewat saluran tasawuf seperti tarekat yang telah berhasil secara gemilang.
Prof. Dr. Jalaludin Rahmat, cendekiawan Muslim menyebutkan bahwa ada dua teori penyebaran Islam di Indonesia. Pertama, adhesi, penyebaranya menempel pada ajaran local. Jadi Islam tidak dating sebagai ajaran asing. Dalam hal ini, bagian dari ajaran Islam yang paling enak untuk ditempelkan pada tradisi local adalah mistisisme. Kedua, penyeberan Islam adalah syarat mistisisme. Memang ada yang menentang teori ini tapi dibeberapa daerah kita temukan fakta ini. Sekarang masih ditemukan sisa-sisa dari Islam yang sangat mistikal, yang ditempelkan sehingga melebur dengan tradisi lokal.
Sebagai organisasi sosial agama, peran NU bagi perjalanan peradaban Ke-Indonesiaan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sikap akomodatif terhadap kebudayaan lebih diletakkan dalam rangka menunjukan bahwa agama (Islam) selalu member peluang bagi tumbuh kembangnya kebudayaan yang memang menjadi ‘naluri’ masing-masing komunitas. Itulah sebabnya NU selalu merawat kebudayaan lokal sebagai alat untuk mengembangkan tradisi keagamaan yang berpaham Ahlussunah wal Jama’ah. Wajah Agama (Islam) yang ditawarkan NU adalah agama yang berwajahkan ke-Indonesia-an. Sikap akomodatif ini tidak lah diambil berdasar kalkulasi oportunistik, melainkan ekternalisasi paradigm keagamaan yang terbuka dan tidak meamdang kebudayaan sebagai sesuatu yang hitam putih.
III. NU dan Peradaban Indonesia
a. Sejarah Berdiri
Nahdlatul Ulama, disingkat NU, artinya kebangkitan ulama. Sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama pada tanggal 31 Januari 1926/16 Rajab 1344 H di Surabaya.
Latar belakang berdirinya NU berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam kala itu. Pada tahun 1924, Syarif Husein, Raja Hijas (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukan oleh Abdul Azis bin Saud yang beraliran Wahabi.Tersebarlah berita penguasa baru itu akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni, yang sudah berjalan puluhan tahun di Tanah Arab, dan akan menggantinya dengan model wahabi. Pengamalan agama dengan system bermadhab, tawasul, ziarah kubur, mauled nabi dan lain sebagainya. Akan segera dilarang.
Tidak hanya itu, Raja Ibnu Saud juga ingin melebarkan pengaruh kekuasaanya ke seluruh dunia Islam. Dengan dalih demi kejayaan Islam, ia berencana meneruskan kekhilafahan Islam yang terputus di Turki pasca runtuhnya Daulah usmaniyah. Untuk itu dia berencana menggelar Muktaram Khilafah di Kota Suci Makkah, sebagai penerus Khalifah yang terputus itu.
Seluruh Negara Islam di Dunia akan diundang untuk menghadiri muktamar tersebut, termasuk Indonesia. Awalnya, utusan yang direkomendasikan adalah HOS Cokroaminoto (SI), K.H Mas Mansur (Muhammadiyah) dan K.H.Abdul Wahab Hasbullah (pesantren). Namun demikian akarena ada permainan licik diantara kelompok yang mengusung para calon utusan Indonesia. Dengan alas an Kia Wahab tidak mewakili organisasi resmi, maka namanya dicoret dari daftar calon utusan.
Peristiwa itu menyadarkan para ulama pengasuh pesantren akan pentingnya sebuah organisasi. Sekaligus menyisakan sakit hati yang mendalam, karena tidak ada lagi yang bisa dititipi sikap keberatan akan rencana Raja Ibnu Saud yang mengubah model beragama di Makkah. Para ulama pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan raja yang anti kebebasan sangat tidak bisa menerima kebijakan raja yang anti kebebasan bermadzhab, ati Maulid Nabi, anti ziarah makam, dan lain sebagainya. Bahkan santer terdengar berita makam Nabi Muhammad SAW, pun berencana digusur.
Bagi para kyai pesantren, pembaruan adalah suatu keharusan, K.H. Hasyim As’ari juga tidak mempersoalkan dan bisa menerima gagasan para kaum modernis untuk menghimbau umat Islam kembali pada ajaran Islam “Murni”. Namun Kiai Hasyim tidak bisa menerima pemikiran mereka yang meminta umat Islam melepaskan dari system berbamdzhab.
Dari peristiwa itulah yang mendesak para kiai pesantren untuk mendirikan organisasi keagamaan yaitu Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh Hadratus Syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, dan arsitek motor penggerak adalah K.H. Abdul Wahab Hasullah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak beras, Jombang.

b. NU dalam Wawasan Kebangsaan
Sebagai organisasi yang lahir di tengah pergerakan Nasional, tidak aneh kalau NU memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi. Apalagi NU hadir sebagai pewaris ajaran Ahlussunah yang telah berabad abad dikembangkan oleh para wali di Nusantara ini, karena itu komitmen kebangsaanya juga berdasarkan pada pelestarian budaya Islam ini. Kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa ini buat NU adalah anugerah besar yang tiada tara. Tidak ada bangsa sekaya ini dan seindah serta senyaman negeri ini.
Belum lagi kondisi alamnya yang ramah, iklimnya yang sedang tidak ada musim yang ekstrem, terlalu panas atau terlalu dingin. Ditambah dengan keanekaragaman hayati yang kaya. Sebagaimana dalam Al Qur’an; Hadza min fadli rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur (ini anugerah dari tuhan untuk menguji kita untuk disyukuri atau diingkari. Tentu saja anugerah ini patut disyukuri dengan dilestarikan serta dikembangkan, bukan untuk diingkari dengan dibabat dan dihancurkan atas nama kemurnian agama atau atas nama kemodernan. Islam hadir justru memperkaya memperkuat nilai kenusantaraan ini.
Karena NU menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia, maka NU secara sadar mengambil posisi yang aktif dalam proses perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan, serta ikut aktif dalam penysusunan UUD 1945 dan perumusan Pancasila sebagai dasar Negara.
Ketika Pemerintah mengajak semua organisasi berasas Pancasila, Nahdlatul Ulama (NU) dapat menerima ajakan tersebut, dengan beberapa pertimbangan, antara lain,: Pertama, Sejak semula didirikan, NU tidak mencantumkan asas organisasi (jami’iyyah), melainkan langsung menyebut tujuan NU mencantumkan asas Islam, ketika NU Menjadi politik (1952), seperti halnya partai-partai lain mencantumkan ideology. Kedua,menurut NU, Islam bukanlah ideology. Islam adalah agama Allah sedang ideology adalah hasil pemikiran manusia. Dan ketiga, asas suatu organisassi, tidak harus agamanya. Boleh asas itu kerakyatan, keadilan, kekeluargaan dan sebagainya.
Bagi NU, bahwa kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai hasil kesepakatan seluruh bangsa Indonesia di mana kaum muslimin, termasuk kaum Nahdliyin, terlibat dalam kesepakat tersebut. Oleh karena itu kaum Nahdliyin harus mengambil bagian secara aktif untuk mempertahankan kelestariannya dan menjaga keutuhannya. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan upaya final, dalam arti, tidak usah mendirikan Negara Lain untuk menggantikannya. Yang harus dilakukan oleh kaum muslimin sebagai golongan mayoritas adalah menyempurnakan dan mengisinya dengan hal-hal yang diridhai oleh Allah SWT. Sehingga NU tidak akan pernah dan tak mungkin mengutak-atik atau mempersoalkan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945.
c. NU dan Budaya Lokal
NU sebagai organisasi keagamaan yang dikenal sebagai kekuatan Islam yang menghormati tradisi dan budaya lokal. Hal ini tidak dibantah sama sekali oleh para ulama NU. Menurut Mbah Muchit Muzadi mengatakan bahwa kecenderungan seperti itu tidak keliru asalkan dalam batas-batas yang tidak bersinggungan dengan akidah dan syariah. NU menjaga agar budaya lokal tidak bersinggungan diwilayah akidah dan syariah dengan menggunakan metode halaqoh, pertemuan ulama atau yang sering adalah bahsul masail.
Nahdlatul Ulama tidak merasa risih dengan istilah yang dilekatkan dengan NU yaitu sebagai Kelompok Islam tradisionalis, Islam cultural, Islam sarungan dan lain sebagainya. NU tidaklah protes, tidaklah marah dengan anggapan seperti itu.
Proses Islamisasi Nusantara yang dilakukan oleh Walisongo lebih banyak dikembangkan dengan metode pendekatan kebudayaan lokal terbukti dengan pendekatan yang dilakukan membawa Islam menjadi agama yang damai dan indah sehingga tidak ada darah yang tercecerpun pada proses Islamisasi. Tradisi pendidikan Pesantren, tradisi menghargai kiyai, tradisi ziarah, tradisi Mitoni, Tradisi Ngapati itu semua terilhami oleh budaya lokal, NU menerima tradisi yang baik akan tetapi ruhnya tetap Islam.
Salah satu cirri yang paling dasar dari Aswaja adalah moderat (tawasut). Sikap ini tidak saja mampu menjaga para pengikut Aswaja dari keterperosokan kepada perilaku keagamaan yang ekstrem, tapi juga mampi meihat dan menilai fenomena kehidupan secara proporsional. Kehidupan tidak bisa di pisahkan dengan budaya. Itu karena budaya adalah kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya. Salah satu karakter dasar dari setiap budaya adalah perubahan yang terus menerus sebagaimana kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu kaum Sunni tidak a priori terhadap tradisi. Bahkan fiqh sunni menjadikan tradisi sebagai salah satu yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan sebuah hokum. Hal ini tercermin dalam salah satu kaidah fiqh,”al adah muhakkamah” (adat menjadi pertimbangan dalam penetapan hukum).
Islamisasi yang dilakukan walisongo melaui pendekatan Budaya lokal, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Dalam dakwahnya Sunan Kalijaga menggunakan media wayang purwa yang nyata-nyata di disukai oleh masyarakat jawa. Sunan Kalijaga tidak enggan mendengar desir hati dan lantunan jiwa masyarakat, walaupun menggunakan wayang tetapi isi dari materi adalah nafas keIslaman.
d. NU dan Pesantren
Bagi Nahdlatul Ulama, pesantren bukanlah menjadi objek semata-mata, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai subyek. Pesantren adalah induk yang melahirkan Nahdlatul Ulama dan Nadhatul Ulama adalah anak kandung pesantren yang memasyarakatkan jiwa kepesantrenan dalam kehidupan nyata. System pendidikan pesantrenlah yang berhasil mendidik para santri sedemikian rupa sehingga mereka menjadi inti Keluarga Besar Nahdlatul Ulama. Para ulama pemangku pesantren bukan saja memberikan pelajaran tetapi sekaligus memberikan contoh tauladan dengan amal perbuatan dan tingkah laku, sehingga terpahami dan terhayati sedalam-dalamnya.
Tradisi pesantren yang awalnya masih berjalan secara tradisional atau salaf, lambat laun membangun peradaban baru dengan membangun manajemen pesantren melalui pendidikan modern. Ini didahului pada awal pembanguna peradaban Indonesia Modern lima dasawarsa pertama pada abad ke-20 , para ulama pesantren menghadapi perkembangan baru dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Atas saran Snouke Hougronye, pemerintah colonial belanda mengembangkan sekolah-sekolah modern model eropa. Ini bertujuan agar kebudayaan wilayah jajahan termasuk Indonesia bisa disatukan dengan menggunakan budaya belanda. Dan juga dengan system pendidikan belanda merupakan sarana agar bisa mengalahkan Islam di wilayah jajahan Belanda tersebut.
Akan tetapi harapan belanda justru menjadi boomerang, karena dengan system pendidikan yang diperoleh oleh pribumi justru menghantarkan pada lulusan-lulusan kependidikan modern bersatu dengan kyai-kyai pesantren membentuk organisasi sosial, kebudayaan, professional, dan politik bagi pribumi dalam rangka mengbangun kesadaran masyarakat untuk memerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
Akar budaya dan tradisi pesantren yang dibangun sekarang sudah semakin kuat dalam rangka membangun pembentukan watak disiplin, kerja keras, sikap saling percaya dan menghargai pendidikan model pesantren yang tetap bertahan sampai sekarang.
Sejak awal berdiri dengan , ulama NU memang sangat concent terhadap pengembangan dan telah banyak memberikan kontribusi dibdiang pendidikan (maarif) dalam konteks peradaban keindonesiaan, dibuktikan dengan berdirinya lembaga-lembaga pendiikan pesantren dan pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi dibawah naungan NU ditiap-tiap cabang atau ranting-ranting yang tersebar diseluruh Indonesia, dengan jenis dan jenjang pendidikan yang berbeda, untuk mempertinggi nilai kecerdasan, membangun peradaban dan SDM umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada Umumnya.
Nahdlatul Ulama sadar betul bahwa peran pesantren sebagai tiang penyangga kekuatan organisasi garda terdepan, meminjam istilah KH. Said Aqiel Siraj bahwa kita harus kembalikan NU kepada pesantren. Ini menunjukan bahwa peran pesantren sangatlah dalam dalam membentuk karakter bangsa dan karakter keagamaan.
IV. Penutup
Tulisan diatas menggambarkan bahwa Nahdlatul Ulama sejak berdiri sebagai organisasi keagamaan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dalam rangka membangun peradaban keindonesiaan melalui jalur budaya dengan tetap melestarikan budaya local tanpa mengesampingkan perbaikan atau nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai yang baru yang lebih baik.
Melalui pesantren sebagai ujung tombak dalam pembangunan peradaban, NU merasa yakin dan memantapkan diri sebagai organisasi yang bergerak dalam turut serta membangun bangsa menuju bangsa yang mampu memberikan kemaslahatan terhadap umat.

DAFTAR PUSTAKA
KH. Achmad Sidiq, Khittah Nahdliyah, Surabaya:PT Khalista
KH. Abdul Muchit Muzadi, Mengenal Nahdlatul Ulama, Surabaya:PT Khalista
KH. Abdul Muchit Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran (Refleksi 65 Th. Ikut NU, Surabaya:PT Khalista
Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari tentang Ahl Al-Sunah Wa Al-Jamaah, Surabaya: PT Khalista
Abdul Mun’im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan, Jakarta: Setjen PBNU-Online
Ayu Sutarto, Menjadi NU Menjadi Indonesia, Surabaya: PT Khalista
Dr. KH. A. Busyairi Harits, M.Ag,Islam NU Pengawal Tradisi Sunni Indonesia, Surabaya: PT Khalista
Dr. Badri Yatim,M.A, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Jurnal Kajian Kebudayaan dan Demokrasi Pesantren Ciganjur edisi 3/Th.1/2006
TIM PW. LTN-NU Jawa Timur, Sarung & Demokrasi Dari NU Untuk Peradaban Keindonesiaan, Surabaya: PT Khalista
TIM PW. LTN-NU Jawa Timur, Aswaja An-Nahdliyah Ajaran Ahlussunah wa al-jamaah yang berlaku dilingkungan Nahdlatul Ulama, Surabaya: PT Khalista
H.Soeleiman Fadell dan Mohammad Sughan,S.Sos, Antologi NU Sejarah Istilah dan Amaliah,Surabaya: PT Khalista
DR.Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren Memadu Modernitas Untuk Kemajuan Bangsa, Yogyakarta: Nawasea Press