Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

PURBALINGGA (17 Mei 2011) PC Ansor NU Purbalingga menyelenggarakan Gema Dzikir dan Sholawat di Lapangan Kec. Karanganyar, Purbalingga. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Ansor NU yang ke-77.  Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Bupati Purbalingga H. M. Sukento Ridlo, MM.

Sekitar puluhan ribu lebih pengunjung memadati lapangan dan jalan. Semua berzikir dan bersholawat. Bersaut padu antara Habib Syech dengan pengunjung.  Semua merindukan Rasulullah. Semua ingin menjadi tamu Rasulullah saw, mendapatkan syafaat Rasulullah saw. Mereka adalah pecinta Rasulullah, pecinta auliya, ulama, kyai, habaib. Sungguh sebuah “kekuatan ruhani” yang sangat dahsyat. Bahkan ketika hujan deras mengguyur, mereka tidak bergeming dari barisannya.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, dalam tausiyahnya mengharapkan agar Ansor benar-benar menjadi “Ansorulloh”, penolong Allah, bukan ansor partai, bukan ansor dari orang-orang yang punya misi pribadi. Tapi sebagai Ansor yang siap mengawal perjuangan para ulama, kyai yang memperjuangkan aqidah ahlussunnah wal jamaah. Dengan demikian Ansor dan Banser juga harus tetap istiqomah menjalankan aqidah ahlussunnah wal jamaah.

Bahwa perjuangan Ansor dan NU umumnya juga tidak dapat dipisahkan dari perjuangan dan pergerakan bangsa Indonesia. Dalam catatan sejarah NU senantiasa setia mengawal NKRI dan ikut membangun pondasi bangsa.

Habib Syech sebagai salah satu Mustasyar di PWCNU Jateng, juga mengingatkan kepada seluruh warga nahdliyin agar tetap istiqomah menjalankan ibadah ala nahdliyin. Jangan terpengaruh oleh orang-orang yang suka membid’ah-bid’ahkan amalan nahdliyin. Tahlilan jalan terus, yasinan jangan berhenti, shalawatan jalan terus, makmurkan bumi Allah dengan zikir, istighosah, dll.

Jangan berdebat dengan orang yang bodoh. Orang yang suka membi’ahkan amalan NU itu orang yang tidak tahu/bodoh. Kalau kita orang NU yang sudah tahu kok malah mau ngeyel dengan orang yang bodoh, kita malah akan menjadi mbahing bodoh. Jadi kalau ada orang yang mengatakan tahlilan, yasinan, shalawatan dll bid’ah. Biarkan saja. Tidak perlu dilayani. Tidak perlu berdebat dengan orang yang tidak tahu. Kita doakan agar mereka suka tahlilan, suka yasinan, suka shalawatan.

Di akhir tausiyahnya, Habib menyampaikan cerita dialog Al Ghozali dengan murid-muridnya. Al Ghazali bertanya kepada muridnya, “Di zaman sekarang, apa yang orang anggap paling ringan?”. Mereka menjawab “yang ringan itu kapas, angin, debu…”. Lalu Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang paling ringan di akhir zaman ini adalah meninggalkan shalat. Banyak orang meninggalkan sholat. Al-Ghazali betanya lagi, “Apa yang orang anggap paling berat?”, Murid-murdnya menjawab, “yang berat itu besi, batu, gunung….” Lalu Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang berat di zaman sekarang adalah menjaga amanat.

Amanat itu banyak. Ada amanat jabatan, amanat keluarga, anak, istri, amanat harta. Orang tua akan dimintai pertanggungjawabannya bagaimana dia menjaga, mendidik anak-anaknya. Anak harus dididik agama dengan  benar. Kalau tidak mampu mendidik sendiri, titipkan di pondok-pondok pesantren.*****[ZKH]

Selamat HUT ke-77 kepada Ansor NU.