NU Online
25/04/2011

Oleh Maulana Farizil Qudsi

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Nahdatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Beberapa pihak bahkan mengklaim, NU adalah organisasi Islam besar di dunia. Klaim jumlah jamaah terbesar se-Indonesia tersebut, agaknya bukan isapan jempol semata, mengingat jumlah jamaah atau pengikut (follower) organisasi ini yang sangat banyak. Utamanya dikawasan pulau Jawa (pulau yang terpadat jumlah penduduknya).

Organisasi yang salah satu pendirinya adalah KH Hasyim Asy’ari ini merupakan sebuah organisasi yang menganut paham Ahlussunah wal jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.

Namun seiring perkembangan zaman, NU mengalami pergeseran persepsi dari masyarakat. Organisasi ini banyak dinilai sebagai organisasi yang kolot dan kurang peka terhadap perkembangan zaman. Hal ini dapat terjadi dikarenakan oleh berbagai macam sebab. Bisa karena pembawaan dakwah yang lebih condong pada arah ‘ritualis’, bisa karena asumsi yang keliru dari para jamaah, atau dapat juga disebabkan karena berbagai macam alasan lainnya. Namun artikel ini tidak akan membahas lebih lanjut mengenai hal itu.

Karena pada artikel ini, akan dibahas mengenai sebuah fenomena menarik yang terjadi dikalangan tokoh-tokoh besar Nahdatul Ulama. Pada era digital seperti sekarang ini, ternyata para tokoh-tokoh besar yang membawa brand Nahdatul Ulama tersebut, menggiring persepsi masyarakat kearah yang lebih baik dan moderen. Caranya adalah menggunakan media sosial sebagai salah satu media untuk berdakwah.

Seperti yang kita ketahui bersama, dewasa ini adalah era kebangkitan media sosial. Tidak hanya bagi dunia, di Indonesia pun pengguna media sosial sudah sangat banyak. Sebut saja facebook yang telah menembus 21,5 juta akun lebih dari Indonesia! (April 2010). Ataupun twitter yang jumlah pengguna terbesarnya adalah berasal dari Indonesia.

Ya, terhitung 5 April 2010, tercatat sekitar 21,5 juta akun Facebook yang berasal dari Indonesia! Angka yang luar biasa besar mengingat akhir tahun 2008 lalu, angkanya masih bertengger di 1,5 juta akun. Dalam 15 bulan, jumlah akun Facebook Indonesia meningkat 14 kali lipat. Selama rentang waktu itu, sedikitnya lahir sejuta akun baru Indonesia tiap bulan di Facebook! (sumber:VirtualID).

Selain facebook, perkembangan twitter di Indonesia juga tak kalah pesat. Pada tahun 2009 Indonesia menempati urutan ke-6 pengguna twitter terbanyak di dunia, dengan total pengguna 2,41%. Sedangkan Amerika saat itu berada di posisi nomor satu dengan total 50,88 %.

Tetapi, hanya dalam kurun waktu 1 tahun, Indonesia ‘berhasil’ menempati posisi satu pengguna twitter terbanyak di dunia. Pada tahun 2010 Indonesia resmi menjadi negara pengguna twitter terbanyak dengan total persentase 20,8 % dan meninggalkan Brazil dengan 20,5%; Sementara Venezuela 19% dan Amerika 11,9% (sumber:dskon.com).

Dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat fantastis di Indonesia, media sosial kini dilirik menjadi salah satu alat komunikasi yang paling mudah digunakan. Banyak sekali ahli-ahli media sosial dan bermunculan.  Dan kemudian, fungsi Media Sosial bergeser dan berkembang menjadi berbagai macam. Seperti misalnya: tools marketing dua arah yang ‘tercepat’, karena tidak terbatas ruang dan waktu. Kemudian digunakan sebagai alat untuk menggalang masa. Seperti yang terjadi di Moldova (Republik), yang mana terjadi sebuah revolusi dan menggunakan twitter serta facebook sebagai alat menggalang massa untuk menggebrak sebuah rezim pemerintahan.

Media Dakwah

Dari berbagai fungsi yang dapat dimanfaatkan melalui media sosial, agaknya ini memancing beberapa tokoh besar Nahdatul Ulama untuk menggunakan media sosial sebagai alat untuk berdakwah. Sebut saja Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj – akrab disapa Kang Said-. Kemudian anak perempuan Gus Dur, Yenny Zannuba Wahid atau yang lebih dikenal dengan Yenny Wahid (Direktur The Wahid Institute). Kemudian KH A. Musthofa Bisri -atau Gus Mus- yang menjabat sebagai Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kemudian tak ketinggalan juga KH Salahuddin Wahid -Gus Sholah-, yang merupakan pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dan juga beberapa tokoh Nahdatul Ulama lainnya, seperti Alissa Wahid, dan masih banyak lagi.

Mereka mengaktivasi brand Nahdatul Ulama -secara tidak langsung- dengan sangat moderen via media sosial. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun para petinggi atau tokoh-tokoh yang berpengaruh tersebut juga memberikan ruh yang sesungguhnya bagi sebuah akun Media Sosial. Yakni berupa sebuah interaksi dua arah.

Beberapa dari akun twitter yang mereka pergunakan bukan hanya untuk menjalin silaturahmi dengan kerabat, atau sanak saudara. Namun benar-benar dipergunakan sebagai sebuah media interaksi dua arah yang berkesinambungan dengan masyarakat.

Tidak hanya saling bertukar sapa, bahkan beberapa tokoh menjawab pertanyaan seputar kajian fiqh dan agama melalui twitter. Diantara yang paling rajin menjawab pertanyaan dari masyarakat adalah @Gus_sholah. Hal seperti ini, yang sebenarnya dapat memacu pertumbuhan brand, baik secara kualitas maupun kuantitas jamaah (followers)

Jumlah follower di twitter mereka pun tidak main-main. Karena self branding yang memang sudah kuat sebelumnya, jumlah follower dari masing-masing account tersebut bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan ribu akun!.

Misalnya akun twitter milik Gus Sholah. Pada akun @Gus_Sholah ini, terdapat 11.905 follower. Kemudian Yenny Wahid (@Yennywahid) yang memiliki 25.625 follower. Selain twitter, Yenny Wahid juga mendapatkan 6500 ‘likes’ di Facebook-Fanpage miliknya.

Secara tidak langsung, media sosial dijadikan salah satu media dakwah yang sangat baik dan cepat. Dengan menggunakan media sosial sebagai sebuah alat untuk berdakwah, para tokoh besar ini, juga ikut menaikkan brand perseption dari organisasi yang menjadi brand mereka, yakni Nahdatul Ulama.

Integrated Media Sosial for Dakwah

Penggunaan media sosial yang dilakukan oleh para tokoh NU ini, tidak terbatas pada akun twitter saja. Tetapi juga terintegrasi ke beberapa media sosial lainnya. Seperti misalnya fanpage di Facebook, kemudian juga website, dan tak ketinggalan Youtube!.

Untuk official account media sosial dari Nahdatul Ulama sendiri, dapat diakses melalui empat macam jenis Media Sosial tersebut. Jika diwebsite, dapat ditemui pada http://www.nu.or.id. Untuk twitter @Nu_online, serta dapat disapa melalui Facebook pada “NU”. Integrated Media Sosial system dilakukan dengan semangat ‘istiqamah’, alias berkelanjutan dan berkesinambungan. Karena itu, tak henti-hentinya jumlah follower dan ‘likes’ pada Facebook terus bertambah. Berita-berita yang tersaji melalui website pun terus di update.

Selain official Media Sosial, banyak juga organisasi-organisasi yang masih berada dalam lingkungan NU, membentuk account-account fans. Misalnya seperti @GUSDURians (Komunitas GUSDURian) dan @GusDurian_KDR (GusDurian’s Kediri). Keduanya adalah merupakan komunitas pecinta Gus Dur.Komunitas ini sendiri dibentuk sebagai semangat untuk meneruskan perjuangan-perjuangan Gus Dur. Dan meskipun bukan merupaka akun resmi, jumlah follower nya juga tinggi, yakni mencapai 820 untuk GUSDURian dan 100 untuk Gusdurian Kediri.

Selain FB, twitter dan website, Nahdatul Ulama juga memposting sebuah video, yang merupakan sejarah berdirinya organisasi Islam terbesar ini. Video berdurasi 5:38 menit ini dikemas dengan modern, professional dan menggunakan bahasa Arab. Video ini dibuat pada PCI NU di Sudan periode 2009-2010.

Editor Majalah Masjid Kemayoran Surabaya -Ar Royyan Magz| Follow @farizilquds)