Liputan:Dzikrul Haul Al Maghfurlah K. Muhammad Husni Ponpes Mambaul Ulum, Tunjungmuli.

Keberadaan majlis-majlis zikir di Indonesia adalah jaminan Allah agar Indonesia terhindar dari azabNya. Demikian disampaikan oleh KH. Samsul Ma’arif, SH. dalam ceramahnya pada peringatan Haul Al Maghfurlah KH. Muhammad Husni bin KH. Muhammad Roni di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Tunjungmuli Karangmoncol, Purbalingga pada tanggal 3 April 2011 kemarin.

Rasulullah saw sangat memikirkan ummatnya. Ketika akan wafat yang beliau khawatirkan ummatnya. Ummati…ummati..ummati…. Lalu Allah swt menjawab kekhawatiran beliau, “Aku tidak akan mengazab ummatmu selama ummatmu bersama-sama denganmu”. Kata Nabi, “Bagaimana kalau aku sudah tidak ada (meninggal)?”. Jawab Allah, “Aku tidak akan mengazab ummatmu salama ummatmu masih mau beristighfar”.

Jadi kalau masyarakat Indonesia masih mau menghidupkan majlis-majlis zikir, istighotsah, tawajuhan, tahlilan, yasinan dll, insya Allah Indonesia akan terhindar dari azabNya.

Tapi peringatan Allah sudah sangat banyak. Tsunami Aceh, Merapi, Lumpur Lapindo, gempa bumi, banjir bandang, kecelakaan pesawat, kereta dll. Itu semua peringatan dari Allah agar masyarakat Indonesia menyadari dan kembali kepada jalan yang lurus, sebagai hamba dan khalifah Allah yang benar. Memperbanyak zikir, istighfar memohon ampun kepada Allah dan mengambil jalan keselamatan.

Memasuki thoriqoh adalah salah satu jalan agar kita senantiasa terbimbing dan dekat dengan orang-orang sholeh.

Masuk sorga itu rombongan-rombongan (zumara). Mau ikut rombongan siapa kita? Diakhirat kita akan bersama orang yang kita cintai. Mengikuti dan mencintai ulama, kyai, orang-orang sholeh, nanti kita akan mengikuti rombongan ulama, kyai, dan orang-orang sholeh.

KH. Samsul Ma’arif SH, juga menyinggung persoalan pendidikan di Indonesia. Sejak Menteri Pendidikan di jabat Daud Yusuf pada masa Orde Baru sampai sekarang, Mata Pelajaran Agama di sekolah-sekolah hanya 2 jam pelajaran. Ini artinya pelajaran akhlak, moral, dan karakter bangsa terabaikan. Semua mengejar UN (Ujian Nasional). Pendidikan di Indonesia tidak seimbang antara otak dan hati, antara iptek dan agama. Maka Mendiknas sekarang, Moh. Nuh mengubah renstra pendidikan dengan menitikberatkan pada pendidikan karakter. Kemajuan ICT harus diimbangi dengan akhlak mulia.

Ironis memang, ketika kita menginginkan karakter bangsa yang baik, tapi pengajaran agama di sekolah hanya 2 jam. Pendidikan karakter yang terintegrasipun dengan mapel lainpun belum sepenuhnya berjalan sebagiamana diharapkan.

Pengaruh internet, televisi dan gaya hidup sekarang sangat mempengaruhi karakter bangsa. Oleh karenanya kita butuh filter untuk menyaring pengaruh global yang dapat merusak karakter bangsa. Filter itu adalah pendidikan agama

KH. Samsul Ma’arif menceritakan pertemuannya dengan Abuya Dimyati Banten (alm). “Abuya, kenapa kondisi Indonesia begitu carut-marut?”. Jawab Abuya, “karena di Indonesia banyak yang memelihara setan”. Setelah sekian lama memikirkan jawaban Abuya, baru ketemu jawabannya, ternyata yang dimaksud setan adalah televisi. Abuya Dimyati melihat televisi adalah penyebab rusaknya karakter dan moral bangsa sehingga peringatan-peringatan Allah begitu nyata di Indonesia.

Ketika waktu maghrib sampai jam 9, televisi masih nyala, itu setan. Karena mempengaruhi anak-anak kita untuk tidak mengaji dan belajar. Nanti dilanjutkan nonton TV siaran bola sampai larut malam menjelang subuh. Bagaimana kita akan enak bangun malam, sholat tahajud atau sekedar jamaah shubuh? Masjid banyak yang kosong tapi di depan TV banyak yang nongkrong. Kalau hal seperti ini terus berjalan, maka bangsa Indonesia akan semakin jauh dari rahmat Allah.

Pendidikan agama, akhlak, itu harus dimulai dari keluarga. Bagaimana bertutur kata yang baik, bertingkah laku yang baik, bergaul yang baik. Guru yang utama adalah orang tua. Lingkungan pendidikan yang baik harus didukung juga oleh lingkungan yang baik, kondisi keberagamaan yang baik, baik di keluarga, lingkungan dan para pemimpin bangsa yang baik.

Korupsi di Indonesia itu sebuah lingkaran setan. Kalau semua lini ada yang korupsi, maka akan sulit dibasmi. Sesama setan tidak akan saling mengganggu.

Sebetulnya indonesia sudah makmur, tapi keadilan yang berlum merata, baik keadilan ekonomi, keadilan hukum, dll.***[ZKH]