Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sabtu, 30 Januari 2011, salah satu anggota DPR/MPR Ri, Ir. H. Romahurmuzi, MT, hadir di Gedung PCNU Purbalingga untuk mensosialisasikan UUD 1945. Pada pidato pengantarnya, Gus Romy, panggilan akrab Romahurmuzi sempat menyampaikan beberapa hal yang cukup menarik.

Reformasi di Indonesia pada dasarnya bertujuan agar Indonesia lebih baik, tapi apa kenyataannya? Ternyata yang meningkat (naik) harga sembako. Moralitas bangsa menurun.

Survey Komisi Penyiaran Nasional melaporkan bahwa rata-rata anak nonton TV sekitar 6 jam. Kegiatan belajar dan  mengaji akan sangat terganggu dengan TV. Persentase tayangan televisi antara pendidikan, agama, dan berita sangat jauh bila dibanding dengan tayangan hiburan. Bahkan acara yang disuguhkan kadang merusak moralitas penonton, terutama anak-anak.

Anak sekarang hidup di era digital dengan hidup  tanpa batas. Pembatasan secara fisik sudah tidak relevan. Oleh karenanya, anak harus dibentengi dengan kekutan iman, dengan pendidikan agama, karena hijab itu ada dalam hati masing-masing. Peran keluarga sangat penting. Gus Romy juga menyampaikan kata-kata KH. Ali Ma’sum alm, bahwa besok umat Islam akan menghadapi musuh yang tidak kelihatan, yaitu televise. Dan itu sudah benar terjadi.

Mengapa pendidikan di Indonesia semakin maju, tapi moralitas semakin turun? Ini karena laju mendidik kalah dibanding laju merusak. Pendidikan laju dengan berjalan, tapi perusakan laju berlari.

Bahkan demokrasi sekarang  sudah menjadi bagian dari industri. Iklan pemilu. Para calon tebar pesona, tebar janji melalui media,dan itu uang. Tarif iklan calon presiden 30 detik di televise mencapai 40 juta. Kalau tayang sampai bermenit-menit, dan berkali-kali,….

Fenomena munculnya politik uang juga menjadi perhatian Gus Romy. Pemilu atau pemilukada, semua mengandalkan uang. Bahkan ada yang mengatakan “pendapat” tergandung “pendapatan”. Artinya suara pemilih tergantung besar uang yang diterima. Ini sangat berbahaya bagi moralitas bangsa. Berjuang menggunakan harta itu ada sejak zaman Nabi. Jihad memang pertama menggunakan harta, baru jiwa (jahadu biamwalihim wa anfusihim). Tapi bukan menggunakan harta (uang) untuk menyuap/membeli suara.

Partai Islam di DPR sekarang hanya 26%, sedangkan 74% lainnya nasionalis. Kader NU dan suara NU sudah betul ada dimana-mana. Tapi sayangnya belum bisa bersatu dalam menyuarakan NU-nya. Yang mendirikan Republik Indonesia adalah orang-orang NU dan tentara. Tapi setelah itu, orang-orang NU tidak kebagian apa-apa. Bahkan di umur Indonesia yang sudah 66 tahun, orang NU jadi presiden hanya 18 bulan.

Menanggapi munculnya paham Islam transnasional, Gus Romy menyampaikan, NU butuh kurikulum Islam untuk orang-orang awam, yang baru mengenal Islam. Bahkan diantara mereka ada yang menganut aqidah taqiyah (pura-pura). Ketika hidup dikalangan NU –awalnya—mau tahlilan, yasinan, dll. Tapi nanti suatu saat orang NU lengah, mereka bisa mengambil alih masjid dan fungsi-fungsi yang lain.

K. Roghib, Syuriyah PCNU Purbalingga berseloroh, “kalau dulu ada orang ke masjid mencuri sandal, sekang yang dicuri sak mesjide (masjidnya sekalian)”……***zaenal.key/sekretaris mwcnu karangmoncol.

Materi Sosialisasi UUD 1945 bisa download di sini