Rabu, 24 November 2010 12:00

Jakarta, NU Online
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Ali Fathollani mengatakan, negaranya tetap berpegang pada sikap Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang berkunjung ke Indonesia pada 2006, yaitu bahwa Iran tidak membatasi perluasan kerja sama dengan Indonesia.

“Kami ingin belajar dari Indonesia termasuk mengenai keberagaman masyarakatnya. Indonesia yang damai dapat berkontribusi untuk perdamaian dunia,” kata Fathollani dalam kuliah umum yang diselenggarakan International Council of World Affair (ICWA) dan Universitas Paramadina di Jakarta, Selasa (23/11).

Ia mengatakan, hubungan Indonesia-Iran bahkan makin penting dan saling membangun dalam kaitannya dengan perkembangan Islam dan semoga juga terjalin di bidang ekonomi, sosial, dan politik.

Fathollani juga menyebut bahwa neraca perdagangan dua negara berjumlah satu miliar dolar AS dan diharapkan dapat meningkat hingga lima miliar dolar setelah penandatanganan berbagai program kemitraan, tanpa merinci program-program yang dimaksud.

Sedangkan menyinggung persoalan dunia dewasa ini, Fathollani mengatakan, negara-negara dunia perlu melakukan perubahan pendekatan terkait masalah-masalah saat ini, termasuk masalah terorisme.

“Iran mengangkat isu kepekaan atas keadilan dalam diplomasi karena ketidakadilan mengakibatkan lebih banyak masalah sehingga kondisi dan aturan yang sekarang dipenuhi ketidakadilan perlu dikaji ulang guna menemukan pendekatan baru untuk menangani masalah di dunia,” kata Fathollani.

Ia mengatakan, untuk menghadapi masalah terorisme, tidak bisa menggunakan pendekatan yang hanya sampai pada kulit luar saja, tapi harus mengenai penyebab awalnya.

“Ketidakadilan yang parah menyebabkan munculnya terorisme; kemiskinan, kelaparan, pengangguran adalah masalah-masalah yang harus menjadi fokus untuk diselesaikan sehingga masalah di dunia dapat dihilangkan,” katanya dalam bahasa Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Namun, persoalannya saat ini banyak negara malah mengalokasikan anggaran ke sektor militer dan penanggulangan terorisme dan bukan untuk mengatasi masalah-masalah sosial.

“Padahal kalau sedikit saja anggaran tersebut dialihkan alokasinya untuk mengatasi kemiskinan, saya yakin hal tersebut dapat lebih menyelesaikan masalah,” kata Fathollani lagi.

Contoh kasus negara yang diambil oleh Iran terkait hal tersebut adalah Afghanistan.

“Iran setidaknya dipenuhi oleh tiga juta pengungsi perang asal Afghanistan dalam 30 tahun terakhir, ada empat negara di sana yang menurunkan tentara dan persenjataannya padahal hal tersebut bukan solusi bagi Afghanistan, ada cara lain yang lebih rasional,” jelasnya.

Situasi yang lebih kurang sama terjadi di Palestina, isu pertama yang harus diselesaikan adalah keadilan.

“Iran mendukung adanya pemilu di Palestina yang mengikutsertakan semua pihak, Islam maupun Kristen, termasuk para pengungsi,” imbuh Fathollani.