Qurban; Ibadah yang dicintai Allah Swt

I

badah qurban di Hari Raya Qurban bagi ummat Islam adalah ibadah yang sangat dianjurkan sebagai perwujudan syukur nikmat dan untuk fastabiqul khoirot. Karena dalam sebuah hadits disebutkan “Tidak ada amalan manusia pada hari penyembelihan yang lebih dicintai Allah selain penumpahan darah (binatang sembelihan) dan sesungguhnya binatang itu akan datang pada hari qiyamat dengan tanduk-tanduknya dan kuku-kukunya dan sesungguhnya darah binatang itu sampai kepada Allah disebuah tempat sebelum jatuh ke tanah, maka lakukanlah (penyembelihan) dengan penuh keridloan (HR. Aisyah ra.).

Dalam konteks bahasa Indonesia, korban adalah kehilangan atau memberi tanpa mengharap kembali. Dalam bahasa Arab qurban berasal dari kata qoroba, qorib = dekat, yaitu media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam istilah Arab, menyembelih atau memotong hewan diartikan sebagai qoti’ yaitu memisahkan badan dan kepala. Ini mengandung makna bagi umat Islam untuk bersama-sama memutuskan (qoti’) antara yang batil menuju yang haq.

 

Belajar Ketaatan dari Nabi Ibrohim as.

Nabi Ibrohim dengan kekayaannya tiap tahun menyembelih hewan qurban 1000 ekor kambing gibas dan 100 ekor unta. Maka iblis menyamar sebagai manusia dan mengejek Ibrohim. “Kamu mau berqurban tiap tahun banyak sekali karena kamu orang kaya, kan?”, kata syetan. “Tidak, aku berqurban karena Allah. Andai saja Allah memerintahkan aku untuk menyembelih anakku, pasti akan aku laksanakan”, jawab Ibrohim. Dalam hati ibrohim berkata: Itu karena tidak punya anak dan sudah uzur, tidak mungkin akan punya anak.

Selang beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrohim as dan Hajar, meski usianya sudah uzur, atas izin Allah Swt ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ismail. Saat usia Ismail 12 tahun, Ibrohim as diingatkan oleh Allah Swt lewat mimpinya agar menyembelih Ismail, sebagaimana yang ia katakan dulu. Kemudian mereka (Ibrohim, Hajar dan Ismail) memutuskan untuk melaksanakan perinta Allah Swt tersebut. Dalam sejarah, Ibrohim pun mengalami banyak sekali godaan dari syetan yang tujuannya untuk menggagalkan niat Ibrohim menjalankan perintah Allah Swt. Namun tak sedikitpun niat Ibrohim terganggu karena ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt. Demikian juga Ismail tak sedikitpun gentar ketika mengetahui ada perintah dari Allah Swt agar dirinya disembelih. Bahkan Ismail berkata: “Wahai ayahku, laksanakan jangan sampai aku diikat dan jangan aku dipalingkan dari muka ayah karena aku takut nanti bila diikat, sejarah akan menafsiri  bahwa aku dalam keadaan dipaksa oleh ayah”.

Ternyata Allah Swt melihat kesalihan Ibrohim dan Ismail dalam menjalankan perintahNya, maka Allah Swt memerintahkan malaikat Jibril untuk menggantinya dengan seekor kambing gibas sambil berucap:

الله اكبر 3× lalu Ibrohim menjawab:

لا اله الا الله هو الله اكبر  dan kemudian Ismail menimpali lagi الله اكبر ولله الحمد

Kalimat-kalimat itu sampai sekarang diabadikan sebagai lafal-lafal takbir (takbiran) yang dikumandangkan pada setiap Idul Fitri dan Idul Adha.

 

Dimensi ibadah Qurban

Ibadah qurban disamping memiliki nilai ibadah kepada Allah, juga memiliki nilai sosial. Oleh karena itu marilah kita langgengkan hubungan kita kepada Allah Swt melalui qurban, baik kambing atau sapi. Yang jelas, berqurban memiliki nilai hasanah/kebaikan, baik secara vertikal (hablun minalloh) maupun horizontal/nilai sosial (hablun minannas).

Hubungan dengan Allah Swt, kita akan merasa nikmat dengan menjalankan syariat Islam menuju ridlo-Nya. Secara moral kita tidak terbebani. Demikian juga dalam hubungan sosial. Faqir miskin akan merasa dikasihani, tersantuni, sehingga di antara mereka  ada yang mendoakan kepada yang qurban. Sebab doanya orang lemah  tidak ada hijab di sisi Allah Swt. Inilah salah satu hikmah ibadah qurban.

Ada hal yang harus diperhatikan oleh pe-qurban, antara lain: Pertama, memilih hewan qurban yang terbaik, tidak cacat, dan sudah memenuhi syarat hewan qurban. Kedua, bila qurban nazar, maka tidak boleh ikut memakannya. Tapi kalau qurban sunah boleh memakan paling banyak 1/3-nya. Ketiga, ketika hewan qurban sudah diserahkan kepada panitia, tidak boleh diakui, sehingga meminta hatinya, atau kepalanya, atau pahanya dll. Sebab itu sudah hak panitia. Kita harus percaya kepada panitia. Keempat turut menyeksikan penyembelihan, kalau bisa sebaiknya memotong qurban sendiri. Kelima, mengikhlaskan apa-apa yang sudah kita korbankan, dan hanya mengharap keridloan Allah Swt.

Sampai di mana Kita Berqurban?

Kita kadang mendahului kehendak Allah Swt. Waktu tidak punya, dalam hati berkata, “Andai aku nanti punya uang 100 juta, aku ikhlas yang 10 juta untuk qurban atau untuk shodaqoh”. Tapi pada waktu punya uang, mungkin akan lupa, atau pura-pura lupa. Ketika sedang menyaksikan penyembelihan qurban, dalam hati kita berucap, “Besok bila ada rizki aku mau qurban kambing atau sapi”. Tapi ketika diberi rizki yang lebih waktu Idul Adha tiba dalam hatinya balik berkata, “Aku belum mampu, tahun depan saja”. Atau dibuat-buat alasan dengan berbagai kebutuhan yang tidak pokok.

Yang aneh lagi, banyak umat Islam yang enggan untuk berqurban, tapi untuk hajatan khitanan dapat membeli 5 sampai 7 ekor kambing dipotong sekaligus. Ia merasa malu bila tidak dapat menjamu tamu-tamunya, tapi tidak merasa malu kepada Allah Swt ketika tidak berqurban, padahal mampu.

Mari kita bertanya, sampai dimana pengorbanan kita. Pengorbanan untuk masjid, madrasah, untuk pesantren, untuk jam’iyah NU, pengorbanan kita untuk orang tua, untuk guru-guru kita. Satu hal yang harus kita ingat bahwa semua pengorbanan kita untuk orang lain pada hakekatnya akan kembali kepada kita sendiri.

Kemauan kita berqurban adalah bukti syukur kita atas nikmat-nikat-Nya. Dunia bukanlah tujuan. Namun dunia dapat juga mengantarkan kepada tujuan yang kekal, yaitu keridloan Allah Swt, jika ia (dunia) dimanfaatkan untuk ibadah, alat untuk taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah. []

***K. Hamid Bastomy, Rois Syuriyah MWCNU Karangmoncol.

Artikel ini pernah dimuat di Buletin PesanTrendNU MWCNU Karangmoncol edisi 06-Th II Desember 2008