NU Online
02/07/2009

Banyak diantara kita umat Islam Indonesia sudah mengamalkan berbagai tradisi keagamaan yang indentik dengan jamaah Nahdliyin (warga NU). Sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan ibu kita aktif menjalankan tahlilan, solawatan, dan sebagainya; sampai ketika dikuburkan dengan talqin. Apakah ini masih kurang NU? Kenapa kita masih butuh berjamiyyah atau aktif dalam organisasi NU?

Berikut ini adalah wawancara Yusuf Suharto dari NU Online dengan KH Masdar Farid Mas’udi, salah seorang ketua PBNU yang gencar memompa semangat kita untuk menguatkan basis keorganisasian NU. Wawancara berlangsung di Pondok
Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Kamis 2 April 2009 di sela acara Halaqah Nasional Alim Ulama NU bertema ”Etika Politik dan Visi Kebangsaan Khittah NU”.

Saya sudah menjalankan ubudiyah ala NU, kenapa saya masih harus aktif berorganiasasi NU?

Memang anda sudah sangat NU. Tapi itu baru secara kultural dalam tradisi keagamannya, dalam ber-habllun minallah. Sementara secara struktural atau organisatoris belum. Organisasi adalah konsep formal, harus ada bukti hitam di atas putih, minimal pernyatan lisan. Seseorang disebut sebagai pengurus organisasi mesti ada SK, minimal pernyatan lisan dari yang berwenang mengangkat. Demikian pula menjadi warga organisasi, harus ada bukti terdaftar dalam registrasi anggota, minimal pernyataan lisan kepada yang berwenang (pengurus). Dengan demiikian, setiap organisasi harus dapat membuktikan, siapa-siapa pengurusnya dan siapa berapa jumlah warganya, secara formal atau tertulis. Tidak bisa hanya klaim.

Barangkali ini kritik untuk NU secara organisatoris?

Ya itulah kualitas organisasi kita. Meskipun sudah 80 tahun lebih masih jauh dari memadai untuk disebut organsiasi. Organisasi itu ibarat kendaraan, muatannya adalah program dan impian-impian. Tanpa organisasi yang kuat, konsep program sehebat apa pun hanya omong kosong.

Tapi perlu dijelaskan lebih lugas, apa perlunya kita ber-NU secara organisatoris?

Seperti pernah saya katakan, NU sebagai organisasi adalah ibarat masjid, masjid virtual (maknawiy), secara fisik tidak tampak, tapi secara sosial nyata adanya. Dalam pengertian ini, NU adalah tempat dimana kita Nahdliyin melakukan amal shalih secara berjamaah. Bedanya dalam masjid fisik-materil amal shalih yang kita jamaahkan bersifat persional (fardiyah- hablum minallah, seperti shalat); dalam masjid virtual berupa oragnisasi NU amal saleh yang kita jamaahkan adalah amal shalih sosial (ijtimaiyah – hablun minannas) yang wujud utamanya ada dua, yakni kesediaan menjunjung tinggi kesepakatan atau keputusan bersama dan kesetiaan membayar infak sesuai ketentuan, betapa pun kecilnya.

Jadi berorganisasi merupakan keharusan?

Ya. Sabda Nabi:  ’Alaikum bil jamaah’ (Hendaklah kalian selalu berjamaah), tidak hanya perintah untuk shalat jamaah di masjid fisikal, tapi untuk amal saleh dalam masjid virtual, yakni organisasi. Bukankah shalat berjamaah tidak lain artinya adalah shalat secara terorganisir. Rukun organisasi ada 4 perkara:  Pertama ada makmum atau warga; Kedua ada imam, pemimpin atau pengurus; Ketiga ada tujuan bersama; Keempat ada aturan main yang ditaati oleh semua. Ber-amal secara berjamaah dalam wadah NU, sama saja dengan shalat secara berjamaah di masjid, pahalanya berlipat.

Bagaimana dengan yang tidak terlalu berharap pahala?

Kalau begitu saya coba yakinkan dengan argumen lain. Bukan naqliy, tapi aqliy, nalar empirik saja. Begini: Beroraganisasi atau berjamaah itu mutlak penting karena tidak mungkin manusia hidup tanpa kebersamaan dengan orang lain. Ada tiga trilogi kebersamaan: dari, bersama dan untuk orang lain. Pertama manusia tidak mungkin lahir di dunia jika tidak dari sesama jenis manusia. Tidak ada mansuia lahir dari kambing atau monyet.

Kedua, untuk bisa tumbuh menjadi manusia, anda harus bersama manusia lain. Meski terlahir sebagai manusia, tapi jika sehari-hari hidup hanya dengan orang utan, meskipun secara fisik tetap manusia tapi jiwanya orang utan. Manusia itu anak lingkungannya. Hidup sama orang jahat bisa terbawa jahat, sama orang-orang baik bisa terbawa menjadi baik.

Ketiga, puncaknya, kalau anda ingin menjadi manusia mulia dan terpuji, anda musti hidup untuk mansuia lain. Semakin besar amal dan kiprah anda untuk sesama, semakin mulia dan terpujilah anda sebagai manusia. Organsiasi adalah sebaik-baik ruang dimana anda bisa hidup bersama dan berbuat untuk orang lain. Dalam kaitan inilah Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari) pernah wanti-wanti kepada orang-orang yang aktif di NU, sebagai anggota dan terutama sebagai pengurus: “Hidup-hidupilah NU jangan mencari hidup dari NU!”

Banyak di kalangan kita yang justru lebih memilih hidup dan bertindak secara sendiri-sendiri, dengan berbagai alasan tentunya.

Benar sekali! Karena sesungguhnya, ruh berorganisasi, meminjam bahasa Nahwu dan Tasawuf, adalah keikhklasan untuk meleburkan ke-aku-an (ananiyah) ke dalam ke-kita-an (nahnuwiyah). Organisasi apa pun tidak akan pernah berjalan sehat, kalau masing-masing komponennya masih mempertahankan ke-aku-annya.

Ambil sebuah misal. Kita menghadapi persoalan bus mogok karena aki tekor, yang jika didorong oleh 10 orang saja secara berjamah, pasti jalan. Sementara kita bukan hanya punya 10 orang, tapi 10 ribu bahkan 10 juta bahkan lebih banyak lagi. Namun mendorongnya sendiri-sendiri. Atau ada yang berjamaah tapi hanya 3 orang. Maka sampai kiamat juga tidak bisa jalan itu bus.

Bandingkan dengan kelompok lain yang warganya hanya pas-pasan 10 orang dan mereka mau berjamah, maka jalanlah mobil itu. Inilah rahasia firman Allah SWT: Begitu banyak kelompok kecil bisa mengalahkan kekuatan kelompok besar karena izin Allah, yakni berjamaah. Rasulullah SAW juga senada: Yadullah fauqal jamaah (Kekuatan Allah SWT yang  pasti luar biasa hanya dianugerahkan kepada mereka yang ikhklas berjamaah). Kita pandai mengkhutbahkannya tapi tidak mengamalkannya.

Jadi jika segenap Nahdliyin dengan ikhlas bergabung dalam NU pasti luar biasa kekuatan kita?

Betul, kalau itu terjadi, pastilah NU menjadi berkah luar biasa bagi umat dan bangsa ini.  Mari kita buat itung-itungan sederhana saja. Ambil 50 juta Nahdliyin, setiap hari infak dengan uang yang untuk beli sebiji kerupuk pun tidak dapat: Rp 350/ orang, berarti Rp 10.000 perbulan perorang. Maka total perbulan bisa dihimpun dana: Rp. 500.000.000.000 (baca:  Rp 500 milyar). Artinya dalam waktu 1 bulan saja NU bisa bangun/ renovasi 500 kantor masing-masing seharga 1 milyar rupiah. Dan setahun NU bisa bangun / renovasi 6000 gedung sekolahan/ balai pengobatan/ pemondokan santri masing-masing seharga 1 milyar.

Kenapa itu tidak pernah terjadi selama ini?

Itu persoalan organisasi dan manajeman, kelemahan terparah kita, yang kita tidak mau menyadarinya selama ini. Dan ini bukan teori kosong. Lihat, organsiasi-organisasi keumatan yang lain, muslim maupun non-muslim yang jumlah umatnya jauh lebih sedikit, mereka telah menggarapnya sejak lama dengan keberhasilan luar biasa. Maka meskipun jumlah umatnya jauh di bawah kita, mereka telah bisa berbuat sangat banyak. Percayalah kita pasti bisa, asal kita serius membenahi organisasi.

Sementara ini memang kita belum bisa mandiri

Biarlah itu menjadi masa lalu. Tanggungjawab kita semua kaum Nahdliyin untuk membebaskan NU dari kebiasaan seperti itu. NU adalah masjid luar biasa agung, tempat jutaan Nahdliyin (seharusnya) beramal saleh secara berjamaah, jangan pernah lagi kita rendahkan. Kewajiban kita segenap Nahdliyin untuk memakmurkannya bagi kejayaan uumat dan bangsa. *** [Sumber: NU Online)