Jumát, 9 April 2010

Mengenang 100 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), PCNU Purbalingga menggelar  Tahlilan dan Sarasehan pada Jumát malam, 9 April 2010 di Gedung NU Purbalinga. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai komponen, baik intern NU, pemerintah daerah, juga hadir dalam kesempatan itu beberapa tokoh Paguyuban Tionghoa Purbalingga.

Tahlil dipimpin oleh Rois Syuriyah PCNU, KH. Abror Mushodiq. Sementara ketua panitia, Sudarno, yang juga sahabat Gus Dur menceritakan kenangannya bersama Gus Dur. Sudarno mengatakan seputar meninggalnya Gus Dur, ternyata selalu bernuansa angka 9. Ini sebuah kebetulan tapi sudah diatur oleh Allah. Gus Dur adalah orang NU, pecinta NU yang berlambang bintang sembilan. Gus Dur sangat mencintai wali sembilan. Ketika meninggal pukul 18.45 (1+8= 9, 4+5= 9). Surat ke-18 adalah Al-Kahfi, pada ayat 45 menyebutkan: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dari ayat ini, diambil sebuah ibarat, bahwa Gus Dur adalah tumbuhan yang tumbuh subur memberi manfaat kepada kehidupan  manusia, tapi akhirnya beliaupun kering, jatuh dan wafat. Ini sudah sunnatullah.

Subeno, MM. (Sekda) yang mewakili Bupati Purbalingga menyitir salah satu pidato Presiden SBY saat pemakaman Gus Dur, bahwa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik bangsa, tokoh nasional, bahkan tokoh dunia. Gus Dur adalah tokoh ulama besar, bapak demokrasi, bapak pluralisme yang sangat dikagumi oleh semua kalangan lintas bangsa dan lintas agama.

Sarasehan mengenang 100 hari wafatnya Gus Dur dimoderatori langsung oleh Ketua PCNU Purbalingga Drs. H. Akhmad Khotib, MPd. Dalam kesempatan itu A. Khotib mengatakan bahwa sampai sekarang ia masih bingung memahami pemikiran Gus Dur. Menurut Khotib, Gus Dur adalah sebuah puisi, atau dalam bahasa santri “nadzoman”. Puisi atau nadzoman adalah bahasa yang syarat makna. Bukan bahasa “wantahan”. Sehingga Gus Dur sering dimaknai berbeda oleh masyarakat luas, bahkan oleh pecintanya sendiri.

Tampil sebagai pembicara dalam Sarasehan itu adalah Suprianto, Lc (Ketua MWCNU Kec. Rembang, Purbalingga), dan Ketua Paguyuban Tionghoa Purbalingga, dr. Mulyadi.

Supriyanto mengawali pembicaraanya dengan sebuah hadits yang menceritakan bahwa: Suatu ketika Aisyah ditanya, “seperti apa akhlak Rasulullah itu?”. Aisyah rh menjawab, “Akhlak Rasulullah saw adalah Al Qur’an”. Kemudian Supriyanto menjiplak hadits tersebut untuk pribadi Gus Dur. “Seperti apa akhlak Gus Dur?”. Akhlak Gus Dur adalah Ahlussunnah wal jamaah. Gus Dur adalah ahlussunnah waljamaah sejati. Kalau ingin melihat seperti apa ahlussunnah wal jamaah, lihatlah bagaimana Gus Dur.

dr. Mulyadi mengatakan pengalamannya bersama Gus Dur. Ketika menjelang pengusungan Gus Dur oleh poros tengah sebagai Presiden RI, dia sempat bertemu Gus Dur dan bersalaman. Gus Dur adalah tokoh yang dapat menerima dan diterima oleh semua kalangan. Menurutnya NU itu besar tapi tidak menakutkan. Untuk memaknai hablun minannas maka jangan menggunakan ayat yang keras-keras. Ketika umat beragama saling menyalahkan, mengkafirkan dengan landasan kitab sucinya, maka tidak akan terwujud. Oleh karena itu, dr. Mulyadi berpesan agar menggunakan ayat yang lunak-lunak saja, karena dalam Injil pun ada ayat-ayat yang keras.

Di akhir sesi, A. Khotib menyetujui  pernyataan dr. Mulyadi, bahwa keras dan lunak itu “umpan papan”.  Artinya keras dan lunak itu harus melihat konteksnya.

Mencintai Gus Dur (jasad), sudah tidak ada artinya, karena beliau telah meninggal. Tapi langkah-langkah dan perjuangan beliau tidak akan mati dan jangkauannya akan semakin luas dan panjang ketika kita warga nahdliyin mau mengikuti nya. ***

[oleh: Zaenal Khayat/Sekretaris MWCNU Karangmoncol]