Jumat, 9 April 2010 | 13:01 WIB

TOILET, parkir, dan lalu lintas di Ponpes Tebuireng, Kec. Diwek, Kab. Jombang, dan sekitarnya menjadi sangat tidak nyaman sehari-hari. Pedagang Kaki Lima (PKL) memadati kanan-kiri jalan di depan Ponpes hingga mengganggu lalu lintas.

Keterbatasan jumlah toilet dan tempat parkir tidak sebanding dengan jumlah peziarah makam Gus Dur yang tiap hari di kisaran 2.000-3.000 orang. Belum lagi pada hari-hari libur, jumlah peziarah naik 2-4 kali lipat. Pembenahan makam Gus Dur pun mendesak.

Itulah curhat KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), pengasuh Ponpes Tebuireng yang juga adik kandung Gus Dur, saat memberikan sambutan peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur di Ponpes Tebuireng, Kamis (8/4) tadi malam.

Menurut Gus Sholah, perkembangan terebut mengganggu kenyamanan peziarah, masyarakat sekitar makam, maupun santri Ponpes Tebuireng sendiri. Jalan-jalan di sekitar Ponpes padat peziarah.

’’Toilet di lingkungan Ponpes terbatas, sehingga santri dan peziarah sering berebut untuk mandi. Selain itu proses belajar-mengajar di Ponpes agak terganggu karena di kompleks dan masjid dipeuhi peziarah,’’ kata Gus Sholah.

Karena itu, pihak Ponpes memberlakukan peraturan yang bisa tidak menyamankan peziarah. Misalnya pada jam-jam tertentu kompleks ini sengaja ditutup untuk umum. Pukul 04.30 sampai pukul 07.00 peziarah dilarang masuk, karena area Ponpes untuk kegiatan santri. Pukul 19.00–20.00 juga ditutup karena masjid dipakai untuk mengaji para santri. Baru di luar jam itu peziarah bebas masuk lokasi ini.

Gus Dur memang memiliki sangat banyak pengagum. Saat pemakamannya 100 hari lalu, puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang sosial dan agama memadati Tebuireng. Demikian juga pembacaan yasin dan tahlil pada peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur di Tebuireng tadi malam, juga dihadiri sekitar 10.000 orang.

Sedangkan Khatmil Quran (khataman baca Alquran, red) yang digelar seharian kemarin di tempat yang sama dihadiri 4.509 orang.  Museum Rekor Indonesia (Muri) pun mencatat rekor acara itu.

’’Penghargaan rekor MURI ke Tebuireng itu masuk kategori superlatif. Artinya, jumlah yang mengikuti khataman Alquran itu terbanyak. Momen hafalan Alquran yang diikuti 4.509 itu belum pernah ada sebelumnya,’’ ujar Paulus Pangka, manajer operasional MURI, seusai menyerahkan piagam rekor Muri kepada KH Abdul Hadi Yusuf, wakil pengasuh Ponpes  Madrasatul Quran, Tebuireng.

Peringatan 100 Hari Wafatnya Gus Dur di Tebuireng juga dihadiri Lily Wahid (adik Gus Dur), ketiga putri Gus Dur Alissa Qutrunnada Munawaroh Wahid, Inayah Wulandari Wahid, Yennny Zanubah Chafsoh (Yenny Wahid), dan Dhohir Farisi (suami Yenny).

Datang juga KH Azis Mansyur Pengasuh Ponpes Pacul Goang Jombang sekaligus yang memimpin baca Yasin Tahlil, serta jajaran Muspida Kab. Jombang. Acara yang dimulai pukul 19.20 berakhir 22.00. Meskipun diguyur hujan, masyarakat bergeming dan tetap mengikuti acara sampai akhir.

Butuh Rp 16 M

Mengingat membludaknya jumlah peziarah makam Gus Dur setiap hari, Gus Sholah menyatakan pembenahan makam Gus Dur mendesak. Pembenahan itu idealnya dilakukan pemerintah, karena alarmahum adalah mantan presiden RI. ’’Semua ini sudah saya utarakan ke Presiden beberapa waktu lalu, dan Presiden berjanji mengkajinya,” ujarnya.

Wagub Jawa Timur H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga sempat menyinggung rencana pembenahan makam Gus Dur saat menghadiri peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di depan Masjid Al Akbar Surabaya, kemarin.

Menurut Gus Ipul, Pemprov Jatim sudah menyiapkan dana Rp12 miliar untuk menata kawasan wisata religi di makam Gus Dur. ’’Di hari-hari biasa ada 2.000-an peziarah yang datang dan pada hari libur (Sabtu/Ahad) berkisar 8.000-10.000 peziarah, karena itu kami sudah menyelesaikan rencana penataan,’’ ujarnya setelah menghadiri peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur di PWNU Jatim, kemarin.

Di sela-sela acara yang dihadiri Gus Sholah itu, Prof Mahfudh MD (Ketua MK), dan Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi itu, Gus Ipul mengatakan, penataan makam di kawasan Pesantren Tebuireng butuh Rp16 miliar.

’’Tapi Pemkab Jombang akan menyiapkan Rp4 miliar. Sedangkan pemerintah pusat akan membantu dalam bentuk lain. Yang jelas, perencanaan untuk penataan kawasan itu telah selesai dan bahkan pembebasan lahan untuk parkir juga sudah tuntas,’’ katanya.

Menurut keponakan Gus Dur itu, penataan kawasan makam keluarga pendiri dan tokoh NU itu meliputi lahan parkir, lokasi pedagang, toilet, dan akses dari lokasi parkir ke tempat pemakaman. ’’Semuanya akan kami upayakan selesai dalam satu tahun ini dengan upaya utama Pemprov Jatim adalah untuk mempermudah akses arus peziarah dari lokasi parkir ke pemakaman,’’ katanya.

Gelar Pahlawan

Sementara itu, gelar kepahlawanan untuk Gus Dur, kata Gus Ipul, pengajuan ke Depsos sudah dua kali dilakukan. Namun masih dikembalikan untuk dilengkapi. ’’Data yang perlu dilengkapi antara lain catatan sejarah saat Gus Dur lengser, makalah-makalah yang pernah ditulis Gus Dur, tapi semuanya sudah diupayakan tim yang dipimpin Profesor Aminudin Kasdi,’’ ujarnya.

Oleh karena itu, ia optimistis gelar itu akan terwujud dalam tahun ini juga, sebab hal pokok sudah terpenuhi yakni aspirasi masyarakat Jatim yang menginginkan hal itu.

Dalam kesempatan yang sama, adik kandung Gus Dur, KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah), menyatakan semua data yang diminta Depsos sudah dilengkapi semua.

’’Kita tunggu saja, karena semuanya sudah lengkap. Tapi, saya kira ada yang lebih penting didahulukan dari Gus Dur, yakni KH Achmad Sidiq, karena KH Achmad Sidiq belum menerima gelar pahlawan, padahal dia yang menyusun konsep penerimaan NU terhadap asas Pancasila,’’ ujar Gus Ipul.

Peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur di Gedung PWNU Jatim itu diawali dengan istighasah (doa memohon keselamatan), yasin dan tahlil (bacaan doa untuk orang yang meninggal dunia), kemudian dilanjutkan dengan seminar aktualisasi pemikiran Gus Dur sebagai guru bangsa.

Selain ritual-ritual, peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur juga diwarnai diskusi dengan pembicara Alissa Qatrunnada Wahid, salah satu putri Gus Dur. Diskusi digelar di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab.Jombang, siang kemarin.

Alissa menyeru kepada Gusdurians, sebutan penganut Gus Dur, untuk merapatkan barisan guna mewaspadai bangkitnya gerakan arus balik yang bisa menghancurkan pluralisme dan multikulturalisme. Tanda-tanda itu mulai terlihat seperti pelarangan kongres gay dan pelarangan pemakaian jilbab.

’’Gerakan menghadang arus balik itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, harus dilakukan bersama-sama dengan niat yang sama,” ujar Alissa pada diskusi yang digagas digagas Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Kampoeng Nahdliyin, serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang itu.bas, ntr.

Sumber http:// http://www.surabayapost.co.id