Jakarta (GP Ansor Online): Menjadi seorang da’i dan da’iyah dituntut keikhlasan dalam menjalankan dakwahnya. Apalagi menjangkau umat yang berada di daerah terpencil dan pedalaman.”Saat ini minim da’i dan da’iyah yang mempunyai keikhlasan dalam perjuangan dakwahnya di daerah terpencil,” tutur Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Nuril Huda kepada Republika, Selasa (6/4).

Nuril memaparkan bahwa saat ini mengirim da’i dan da’iyah dari Jakarta ke daerah terpencil terutama lokasi transmigrasi tidak bisa bertahan lama.”Baru dua bulan da’i dan da’iyah yang dikirm bisanya sudah kembali ke Jakarta. Mereka kurang memahami perjuangan berdakwah,” tutur dia.
Karena itu LDNU mulai merintis untuk mencetak da’i dan da’iyah yang berasal dari keluarga transmigrasi.”Kita mulai memanggil calon da’i dan da’iyah ke Jakarta untuk dididik berdakwah. Setelah selesai dididik mereka kembali ke daerah asal untuk berdakwah,” kata Nuril.

Calon da’i dan da’iyah akan dididik selama satu bulan di pesantren untuk memahi lebih mendalam tentang agama. Dan LDNU juga secara rutin mengirim naskah agama ke daerah terpencil untuk dipelajari lebih lanjut oleh da’i dan da’iyah yang sudah dilatih di Jakarta.

Dalam lima tahun terakhir LDNU sudah mendidik sekitar 700 da’i dan da’iyah untuk diterjunkan ke daerah terpencil. Dan 40 persen diantaranya adalah da’i dan da’iyah yang berasal dari keluarga transmigran.”Karena da’i dan da’iyah yang berasal dari daerah transmigran betul-betul memiliki keikhlasan dan keilmuwan untuk berdakwah di daerah mereka,” tutur Nuril.
Nuril juga memaparkan bahwa dakwah di daerah terpencil termasuk daerah tujuan transmigrasi sangat penting untuk mendampingi keimanan umat yang mayoritas memprihatinkan.Karena diakui ada beberapa kasus kondisi umat transmigran yang keimanannya minim berpindah agama.”karena itu dakwah di daerah terpencil sangat penting untuk pendampingan umat dan menghindari umat untuk berpindah agama,” tutur dia.

http://www.gp-ansor.org/berita/ldnu-sulit-mencari-dai-di-daerah-terpencil.html