Ahlussunnah wal Jamaah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Islam yang murni dan asli, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya, sehingga kelompok Ahlussunnah wal jamaah patut disebut sebagai golongan yang selamat (al firqoh an najiyah).

Perlu diketahui bahwa tidak semua aliran dalam Islam mengatakan dirinya sebagai Ahlussunnah wal Jamaah, seperti Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Zaidiyah, dan Ibadiyah. Dalam catatan sejarah hanya ada dua aliran yang menyebut dirinya sebagai Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu aliran yang mengikuti madzhab al Asyari dan al Maturidi dan aliran yang mengikuti pemikiran Ibn Taimiyah al Harrani. Kedua aliran ini yang mengklaim dirinya mewakili Ahlussunnah wal jamaah.

Lalu aliran manakah yang patut disebut mewakili Aswaja? Apakah madzhab Al Asyári dan Al Maturidi ataukah madzhab Ibn Taimiyah?

Menurut mayoritas ulama, madzhab Al Asyári dan al Maturidi adalah golongan yang merepresentasikan Ahlussunnah wal jamaah. Dalam konteks ini al Imam al Hafidz al Zabidi mengatakan:

“Apabila Ahlussunnah wal jamaah disebutkan, maka yang dimaksud adalah pengikut madzhab al Asyari dan al Maturidi.

Sehingga dalam pandangan umum para ulama, istilah Ahlussunnah wal jamaah menjadi nama bagi madzhab al Asyari dan al Maturidi. Hal ini tidak berarti menafikkan kelompok lain yang mengklaim dirinya sebagai golongan Ahlussunnah wal jamaah, yaitu kelompok yang  mengikuti paradigm pemikiran Ibn Taimiyah al Harrani, yang dewasa ini terwujud dalam aliran Wahhabi, yang sejak abad ke-19 yang lalu menamakan dirinya aliran Salafi.

Adakah dalil yang menguatkan bahwa madzhab al Asyari dan al Maturidi  layak mewakili Ahlussunnah wal jamaah?

Pertama, bahwa dalil-dalil tentang perpecahan umat memberikan penjelasan bahwa golongan yang selamat ketika kaum muslimin terpecah belah menjadi 73 golongan adalah golongan al-jamaah. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata al-jamaah. Namun perbedaan mereka bukan merupakan perbedaan yang kontradiktif(tadhad), akan tetapi perbedaan tersebut merupakan perbedaan keragaman (tanawwu’), dimana pendapat yang satu melengkapi pendapat yang lain.

Menurut  al Imam Abu al Muzhaffar al Asfarayini mengatakan: Diantara cirri khas Ahlussunnah wal jamaah adalah diterangkan dalam riwayat lain, bahwa Nabi saw pernah ditanya tentang kelompok yang selamat, lalu beliau menjawab: Kelompok yang selamat adalah al-jamaah. Ini adalah identitas yang khusus pada kami (madzhab al Asyari dan al Maturidi), karena semua orang yang alim dan yang awam dari berbagai golongan menamakan mereka dengan nama Ahlussunnah wal jamaah.

Pengakuan bahwa madzhab al Asyari dan al Maturidi adalah Ahlussunnah wal jamaah juga dikemukakan oleh mayoritas ulama yang mengikuti madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali.

Dewasa ini, aliran Wahabi yang menamakan dirinya kelompok Salafi, juga mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah wal jamaah. Akan tetapi para ulama terkemuka dari kalangan ahli tafsir, hadits dan ahli fiqih yang mengikuti madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali tidak mengakui Salafi sebagai Ahlussunnah wal jamaah. Bahkan aliran Wahhabi ini disepakati sebagai kelangsungan dari aliran Khawarij pada awal-awal Islam yang membawa paradigma pengkafiran dan penghalalan darah kaum Muslimin selain golongannya.

Kedua, mengikuti ijma’ ulama. Kata al-jamaah tersebut juga mengacu pada golongan yang menjadikan ijma’ sebagai hujjah dan dalil dalam beragama.  Hal ini didasarkan pada dalil AlQurán  dan Hadits yang mewajikan mengikuti ijma’ ulama.

Allah swt befirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas jalan kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadapa kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. an-Nisa: 115)

Dalam hadits shahih disebutkan:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. اِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ اُمَّتِي عَلىَ ضَلاَلةِ, يَدُ اللهِ مَعَ الْجَماَعَةِ, وَمَنْ شَدَّ شَدَّ اِلىَ النَّار.

Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengumpulkan ummatku atas kesalahan. Pertolongan Allah  selalu bersama jamaah. Dan barangsiapa yang mengucilkan diri dari jamaah, maka ia mengucilkan dirinya ke neraka.

Sikap mengikuti ijma’ ulama merupakan realita dalam madzhab al Asyári dan al Maturidi, karena dalam menetapkan hukum-hukum agama, para ulama pengikut madzhab al Asyári dan al Maturidi  selalu menggunakan dalil Al Qurán, Sunnah, Ijma’dan qiyas secara sempurna. Sedangka aliran-aliran lain menolak sebagian penggunaan dalil-dalil itu.

Satu hal yang penting saya kemukakan di sini, bahwa tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan pendapat yang berbeda, tapi dimaksud sebagai upaya penguatan aqidah, wabil khusus bagi warga nahdliyyin agar tetap konsisten memegang aqidah annahdliyah (ahlussunnah wal jamaah). Sebab ada beberapa kelompok dakwah yang mencoba melancarkan dakwahnya ke kenantong-kantong nahdliyin dan membidáhkan beberapa amaliyah nahdliyah. Terhadap kelompok dakwah yang demikian, agar dihadapi dengan bijaksana, sehingga tidak menimbulkan keresan di masyarakat yang sudah tertata mapan.

Dan tulisan ini belum selesai, insya Allah akan disampaikan lagi.***

[disarikan dari buku: “Madzhab al Asyári, benarkan ahlussunnah wal jamaah; jawaban terhadap aliran Salafi”, karya M. Idrus Ramli, LTNU Jatim, 2009]