ORANG-orang NU berkumpul di Makassar. Mereka bermuktamar mulai 23 Maret hingga 28 Maret 2010.

Ormas Islam yang lahir sembilan belas tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia itu, sejak kelahirannya hingga masa tertentu, menyandang label sebagai ormas yang berpaham keislaman tradisional dan konservatif.

Warna pikiran Imam Syafii dan Syafiiyah adalah warna fikhi orang-orang NU. Sedang pikiran Imam Abu Hasan al-Asyari dan corak Asyariyah mewarnai akidah atau teologi mereka. Orang-orang NU akrab dengan berbagai macam hadis. Sama dengan Imam Gazali, pemikir besar Islam, yang kurang cermat di dalam memilah hadis dari segi kualitasnya.

Gus Dur (KH Abdurahman Wahid), cucu pendiri NU, KH Hasyim Asyari, adalah batas awal NU bergeser meninggalkan tradionalisme dan konservatismenya.

Bahkan, sebelum tampil memimpin NU, sebagai tokoh NU, Gus Dur mulai menggiring NU sebagai organisasi civil society yang mandiri, disegani, dan menjadi tidak gampang dikendalikan oleh pemerintah; apalagi saat Gus Dur memimpin NU.

Lahirnya JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dimotori oleh anak-anak muda NU, dan sudah jauh berbeda dari fikhi Syafiiyah dan teologi Asyariyah NU, merupakan bukti pergeseran yang amat signifikan di dalam NU.
Pada saat yang sama, Muhammadiyah sebagai ormas empat belas tahun lebih tua dari NU dan sejak lahirnya menempel label pembaruan pada dirinya, ternyata mengalami kemunduran yang amat berarti pada akhir-akhir ini.

Lahirnya semisal ormas Wahdah Islamiyah sebagai sempalan Muhammadiyah, pelaku terorisme seperti Amrozi dan kawan-kawan yang disebut sebagai warga Muhammadiyah, dan fatwa haram rokok Majlis Tarjih Muhammadiyah, membuktikan bahwa ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu semakin konservatif dan jauh dari wataknya sebagai ormas pembaru.

Kini, saat NU bermuktamar di Makassar, dua calon yang disebut berlomba mau memimpin NU, Akil Siraj dan Solahuddin Wahid, sempat disoroti oleh pengamat sebagai bergaya Orde Baru karena menjelang Muktamar dipanggil dan bertemu Presiden SBY.

Sementara Hasyim Muzadi oleh banyak kalangan, dinilai kurang gaungnya sebagai aktor civil society, dibanding dengan Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah. Dengan demikian, ada kekuatiran bahwa Muktamar NU kali ini, dengan tanpa Gus Dur, “kembali ke khittah” bisa tafsirnya ialah “kembali Orde Baru”, atau bahkan, “kembali ke Orde Lama Soekarno”.

Jika itu terjadi, gerakan penguatan civil society akan kehilangan satu elemen pentingnya yakni NU. Mungkin lain ceritanya, jika Muktamar berani memilih pemimpin NU yang lebih muda dan energik, tapi di dalam dirinya ada ruh Hasyim Asyari, atau paling sedikit metamorfose dari Gus Dur, yang cerdas, jinak tapi juga liar (sulit didikte).

Sayang sekali, kalau muktamar dengan biaya besar hanya melahirkan pengurus NU yang gampang didikte.(bie)

Prof Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin

sumber: http://www.tribun-timur.com