Senin, 29 Maret 2010 13:46

    Siaran Pers the Wahid InstituteMuktamar Nahdlatul Ulama ke-32 yang berlangsung sejak 22-27 Maret 2010 di Makasar Sulawesi Selatan telah berakhir dengan sukses. Selain melahirkan rekomendasi-rekomendasi penting terkait bidang agama, pendidikan, dan kesehatan; bidang politik dan hukum; bidang hukum dan HAM, Muktamar juga telah berhasil memilih dua figur pemimpin yang dilakukan secara demokratis: KH. Sahal Mahfudz sebagai sebagai Rois Am Syuriyah dan KH Said Agil Siradj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 2010-2015. Mengapresiasi hasil pelaksaan Muktamar tersebut, The Wahid Institute menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

    Pertama, kami sangat menyambut baik atas terpilihnya KH Sahal Mahfudz secara aklamasi sebagai Rois Am Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH Said Agil Siradj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2010-2015.

    Kedua, kami menilai KH. Said Aqil Siradj adalah figur ulama sekaligus pemikir NU yang mampu melanjutkan ide dan cita-cita besar KH. Abdurrahman Wahid yang selama ini beliau anggap sebagai menjadi guru sekaligus patner berdiskusi yang berkualitas. Ide dan cita-cita itu adalah menyangkut pemberdayaan pesantren, pengembangan nilai-nilai toleransi dan demokrasi, dan sikap yang amat terbuka tempat bagi tumbuhnya pemikiran baru.

    Ketiga, kami percaya bahwa KH Sahal Mahfudz dan KH Said Agil Siradj mengakomodasi dan merangkul setiap kekuatan dan kelompok yang ada di NU, termasuk kekuatan generasi muda, dan menjadikannya sebagai modal penting untuk bersama-sama membangun NU sesuai Khittah 1926.

    Keempat, kami optimis sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, KH Said Agil Siradj akan mewujudkan bentuk pemberian ruang bagi generasi muda NU, termasuk terhadap perkembangan pemikiran keagamaan di dalamnya, dengan cara melibatkan generasi muda dalam kepengurusan PBNU periode 2010-2015. Perkembangan pemikiran tersebut bagaimanapun dapat bermanfaat dalam kerangka kemajuan pemikiran keagamaan di lingkungan Nahdliyin dengan tetap berpegang pada tradisi ahli sunnah waljamaah dan di bawah bimbingan keilmuan para kiai.

    Kelima, dengan duet KH Sahal Mahfudz dan KH Said Agil Siradj ini kami optimis bahwa NU dapat lebih berkonsentrasi pada program-program nyata dalam bidang pemberdayaan masyarakat NU dan pesantren ketimbang sibuk dan terseret dalam politik praktis.

    Keenam, kami juga patut memberi apresiasi yang tinggi kepada muktamirin yang telah bekerja keras melahirkan sejumlah rekomendasi penting terkait berbagai isu publik, juga kepada para calon Rois Am Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziyah yang mampu menjaga etika ke-NU-an selama Muktamar berlangsung.

    Jakarta, 28 Maret 2010

    Direktur The Wahid Institute

    Yenny Zannuba Wahid