Jumat, 5 Maret 2010
Bekasi, NU Online

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr HM Bambang Pranowo mengatakan, upaya penegakan Islam substantif yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dan diteruskan oleh generasi selanjutnya. Para sesepuh berharap Islam tak hanya simbol.

Demikian disampaikanya dalam acara tasyakuran Ketua PBNU H Abdul Aziz yang memeroleh gelar doktor dengan disertasi “Peran Islam dalam Pembentukan Negara: Studi tentang proses pembentukan Negara di Madinah pada masa Muhammad SAW dan Kholifah Empat”. Tasyakuran digelar seserhana di rumah Abdul Aziz di Kranji, Bekasi, Kamis (4/3) malam.

Bambang Pranowo mengatakan, para pendahulu bangsa adalah bersikap nasionalis namun tetap juga memperhatikan simbol keislamanya. Bung Karno yang saat itu menjadi Presiden RI menyampaikan gagasan dan pemikiranya kepada almarhum Wahid Hasyim selaku menteri agama saat itu untuk mengimbangi banyaknya gereja yang ada di Ibukota. Maka dibangun masjid Istiqlal yang termegah di Asia tenggara dan menjadi monumental dan simbolis.

Namun begitu, kedua tokoh nasional itu tak lantas mendukung pembentukan negara Islam secara formal, malahan mereka meneguhkan tegaknya Negara Kesatuan Republ;ik Indonesia (NKRI).

Prof Bambang Pranowo dalam acara tasyakuran itu sempat pula melemparkan statemen tokoh NU KH Idham Kholid terkait soal Islam substantif dan simbolis yang cukup terkenal yaitu: “Mana yang lebih baik antara minyak samin cap babi daripada minyak babi cap onta?” ”Maka lebih penting mana Islam substantif daripada Islam simbolis?” ujarnya.

Acara tasyakuran itu diawali dengan pembacaan tahlil. Dihadiri oleh beberapa aktifis PP Lakpesdam NU, pejabat KPU, beberapa sahabat. Ketua Umum PBNU DR KH Hasyim Muzadi juga hadir. Pengamat politik Fachri Ali juga hadir dan menyampaikan komentarnya atas disertasi Abdul Aziz. (sin)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=22321