Senin, 15 Maret 2010
Brebes, NU Online

Pondok pesantren harus menjadi benteng masuknya berbagai aliran keagamaan baru di Indonesia, terutama aliran Wahabi yang berupaya menghilangkan ubudiyah dan tradisi keagamaan yang telah dikembangkan oleh para ulama terdahulu.

“Pesantren, harus jadi benteng terhadap berbagai aliran diluar Ahlussunah Wal Jamaah,” ujar Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes H Athoillah SE saat memberikan sambutan pada peletakan batu pertama pembangunan Asrama Pondok Pesantren Al Hasaniyyah Kedawon, Rengaspendawa, Larangan Brebes, Ahad (14/3).

Makin maraknya aliran keagamaan di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi NU. Pasalnya, NU memiliki anggota terbesar sehingga menjadi sasaran empuk bagi aliran-aliran yang baru tumbuh agar masuk ke dalam komunitasnya.

Untuk itu, kepada seluruh warga NU (Nahdliyin) diharapkan mewaspadai derasnya aliran yang dengan terang-terangan merebut generasi NU dengan berbagai cara dan dalih.

Aliran baru ini biasanya masuk melalui masjid-masjid dan dan mushola yang diririkan warga setempat. Menurut dia, era sekarang Nahdliyin harus mempunyai keberanian menyatakan masjid dan mushola milik NU. “Kita yang susah-susah mendirikan, jangan mudah di ambil alih,” tuturnya.

Gerakan perebutan tempat ibadah oleh aliran Wahabi, terang Athoillah, dengan cara menempatkan kader-kader wahabi menjadi marbot. Mereka rela tidur dan makan di mesjid dan sekaligus mengincar menjadi imam di waktu subuh. “Saat jadi imam subuh, maka tidak diucapkannya doa qunut. Akibatnya doa qunut hilang dengan sendirinya,” ujar Athoillah.

“Kini ada 2000 kader wahabi sengaja disebarluaskan untuk merebut mushola dan masjid milik NU,” tandasnya. (was)

http://www.nu.or.id/page.php